ISIS Membidik Indonesia
Bendung Kemungkinan Penerobosan, TNI-Polri Jaga Perbatasan
Salah seorang petugas badan intelijen di Manila, Filipina mencurigai ada keterkaitan sekelompok orang Indonesia dengan aksi penyerbuan kelompok Maute
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Salah seorang petugas badan intelijen di Manila, Filipina mencurigai ada keterkaitan sekelompok orang Indonesia dengan aksi penyerbuan kelompok Maute di Filipina.
Menurut petugas tak ingin disebutkan identitasnya itu, ada hubungan dekat antara militan Maute dengan militan Indonesia. Semua berawal dari pendiri kelompok tersebut, Omar Maute.
“Satu dari pendiri kelompok Maute, Omarkhayam, menikah dengan seorang perempuan dari Indonesia, yang dia temui saat belajar di Mesir,” katanya.
Menurut informasi yang didapat, perempuan itu merupakan putri seorang ulama.
Disebutkan kakak beradik pendiri kelompok Maute, Omarkhayam dan Abdullah Maute pernah memiliki hubungan dengan dua militan berbahaya dari Indonesia dan Malaysia.
Keduanya Ustadz Sanusi dari Indonesia dan Zulkifli bin Hir (Marwan) dari Malaysia, yang masing-masing tewas oleh pasukan keamanan Filipina pada 2012 dan 2015 lalu.
Jumat (26/5) lalu, Komandan Brigade ke-103 Tentara Filipina Brigjen Nixon Fortes mengatakan jenazah seorang petinggi Maute ditemukan. Jenazah itu diidentifikasi bernama Imam Avelino Dimacaling Bantayaw, yang diduga bertugas melatih militan Maute di Filipina.
Bersama jenazah Imam Avelino, ditemukan juga dua jenazah yang diduga merupakan pelatih militan dari ISIS yang datang ke Filipina.
“Banyak sumber menyebut bahwa (Imam Avelino) adalah dari Indonesia, bahkan rekan kami dari Front Pembebasan Rakyat Moro (MILF) mengatakan bahwa dia dari Indonesia,” jelas Nixon Fortes.
Sebanyak 103 orang dikabarkan tewas akibat aksi penyerbuan kelompok Maute di Filipina, yang tingkat keparahannya ditandai pengibaran bendera ISIS di Marawi, Filipina. Maute diketahui sebagai kelompok yang didukung ISIS, yang dianggap radikal karena didirikan oleh tokoh-tokoh MILF.
Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah memberlakukan darurat militer di seluruh daerah selatan Mindanao itu, yang menjadi rumah bagi 200 ribu orang. Juru Bicara Kepresidenan Ernesto Abella mengatakan, darurat militer akan berlaku kurang lebih hingga 60 hari, namun Duterte mengatakan bisa saja diberlakukan hingga setahun ke depan.
Di Jakarta, Menkopolhukam Wiranto memastikan pemerintah mengantisipasi makin meningkatnya ketegangan di Marawi. “Tidak bisa dipungkiri di antara aktivis mereka, banyak datang dari berbagai negara,” ujarnya kepada wartawan di Pusdiklat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Sebelum di Filipina Selatan, hal serupa diterapkan di Suriah, yakni mengundang orang-orang dari berbagai belahan dunia untuk sama-sama berperang bersama ISIS. Para pejuang itu, 500 di antaranya adalah Warga Negara Indonesia (WNI). Bukan tidak mungkin di Filipina akan diterapkan cara yang sama.
Oleh karena itu, saat ini pemerintah berupaya membendung pengaruh dari konflik yang terjadi di Marawi antara pejuang ISIS melawan militer Filipina. Wiranto menyebut saat ini pemerintah berusaha agar tidak ada WNI yang ikut bertempur bersama ISIS.
“Sekarang BNPT telah berjuang berusaha untuk identifikasi laporan yang berikan indikasi adanya keterlibatan WNI di sana. Tapi yang penting adalah bagaimana kita dapat membendung, jangan sampai basis itu bisa menjalar ke Indonesia,” katanya.
“Kita perkuat patroli maritim, perkuat posisi di darat, saya sudah berbincang dengan panglima dan kapolri untuk dapat bendung kemungkinan adanya kemungkinan penerobosan ke Indonesia,” ujarnya. (tribun/ruth/rek/ABS-CBN/Today Online/Aol)
Baca lebih lengkap di Harian Banjarmasi Post Edisi Cetak Rabu (21/5/2017)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/banjarmasin-post-edisi-cetak_20170531_080102.jpg)