Berkah Ramadan

Tausiyah: Puasa dan Penguatan Memori

Al-Ghazali menyebut 10 bahaya orang yang terlalu banyak makan, di antaranya adalah menyebabkan hatinya mati dan hilangnya pancaran cahaya.

Tausiyah: Puasa dan Penguatan Memori
Halaman 1 Harian Banjarmasin Post Edisi Rabu (31/5/2017)

Oleh: Ketua Komisi Dakwah MUI Cholil Nafis

BANJARMASINPOST.CO.ID - Menahan lapar dan haus saat berpuasa membuat tubuh kita terasa kurang berenergi. Secara fisik memang demikian, karena tidak ada asupan makanan sepanjang hari. Sehingga kita menganggap bahwa saat berpuasa adalah saatnya mengurangi aktivitas fisik. Namun, jangan pernah bilang bahwa karena berpuasa kita harus mengistirahatkan otak untuk berpikir. Hal ini terjadi karena daya ingat (memori) menjadi berkurang. Benarkah demikian?

Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, memberi catatan khusus bagi orang yang terlalu banyak makan (termasuk yang tidak mau berpuasa). Menurutnya, orang yang terlalu banyak makan berarti dirinya memiliki kebiasaan yang sangat buruk, baik secara fisik maupun batin. Dalam kitabnya Sirajuth Thalibin, Al-Ghazali menyebut 10 bahaya orang yang terlalu banyak makan, di antaranya adalah menyebabkan hatinya mati dan hilangnya pancaran cahaya.

Makanan dan minuman yang terlalu banyak masuk ke dalam tubuh, kata Al-Ghazali, membuat otak menjadi melambat dan bebal. Hatinya pun sulit digerakkan untuk berzikir dan beribadah kepada Allah. Ibarat bercocok tanam, tanaman yang terlalu banyak disirami air tanpa memberikan kesempatan untuk berkembang, maka ia akan layu dan akhirnya mati.

Begitu juga manusia, kalau terlalu banyak memasukkan makanan ke dalam perut, maka hatinya akan mati dan hilang pancaran cahayanya. Contoh yang paling mudah adalah, seseorang yang terlalu banyak makan, ia akan mudah mengantuk dan banyak tidur.

Rasulullah SAW menyatakan dalam salah satu sabdanya, “Jangan kalian matikan hati dengan banyak makan dan minum, karena hati bisa mati seperti tanaman apabila disirami banyak air.”

Sebagian ulama sufi mengumpamakan perut dengan periuk yang mendidih di bawah hati, uap dari periuk naik ke atas mengenai hati, maka uap tersebut akan mengotori hati dan membuat hati menjadi berdaki. Sebuah perumpamaan yang sangat tepat, karena faktanya secara fisik, timbulnya penyakit yang diderita oleh manusia akibat dari pola konsumsi yang tidak benar.

Al-Ghazali juga menyindir kepada mereka yang terlalu banyak makan akan kehilangan rasa manisnya beribadah atau ketenangan dalam ibadah. Perut yang penuh justru akan merusak konsentrasi dalam beribadah kepada Allah karena sistem metabolisme tubuh dikuasai oleh unsur-unsur material. Abu Bakar as-Shiddiq berkata, “Aku tidak pernah lapar semenjak menjadi seorang Muslim, supaya aku mendapatkan ketenangan dalam beribadah kepada Tuhanku, maka aku tidak banyak minum, karena aku rindu untuk berjumpa dengan Tuhanku.”

Bagaimana pengaruh puasa terhadap daya ingat manusia? Benarkah orang yang berpuasa akan mengakibatkan daya ingatnya menjadi berkurang?

Secara biologis, daya ingat dipengaruhi oleh glukosa. Sedangkan pada saat puasa asupan dari glukosa menurun. Tubuh melakukan sebuah sensasi yang menandakan bahwa perut kosong (lapar).

Namun, para peneliti justru menemukan bahwa meski selama berpuasa pikiran melambat, namun justru pola pemikiran menjadi lebih jernih. Mengapa? Karena lambatnya pola pikir itu mendorong untuk berpikir lebih dalam, lebih hati-hati, dan bisa dalam wujud introspeksi diri. Dalam konteks ini, pola pikir yang melambat di saat lapar justru dapat mempertajam ingatan.

Dalam banyak referensi, bahwa hormon opioids akan digunakan lebih efektif saat perut dalam keadaan kosong, sehingga membantu meningkatkan fokus dan produktivitas. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pengurangan selang waktu makan (puasa) dapat melindungi otak dari penyakit yang berbubungan dengan otak, seperti alzheimer dan parkinson.

Di sini jelas bahwa puasa akan membawa pada kondisi fisik dan mental mengalami kenaikan level, di antaranya yang paling menonjol adalah kestabilan emosi, yang disebabkan oleh terbebasnya dari ketergantungan pada makanan.

Bukankah para Shalihin, ulama-ulama besar masa lalu memiliki lautan ilmu dan kebijakan (wisdom) yang luar biasa karena mereka sering berpuasa? Bagaimana dengan kita? Wallahu a’lam. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved