Berita Tanahlaut

Kades Samdiani Terinspirasi dari Internet, Wujudkan Ekowisata Mangrove di Pagatanbesar

Pemanfaatan mangrove sedang gencar dilakukan di beberapa daerah pesisir pantai di Kalsel. Salah satunya Desa Pagatanbesar, Kecamatan Takisung.

Kades Samdiani Terinspirasi dari Internet, Wujudkan Ekowisata Mangrove di Pagatanbesar
Halaman 1 Harian Banjarmasin Post Edisi Senin (5/6/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN -  Pemanfaatan mangrove sedang gencar dilakukan di beberapa daerah pesisir pantai di Kalsel. Salah satunya Desa Pagatanbesar, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanahlaut, mengembangkan potensi lahan mangrobe menjadi obyek wisata.

Desa Pagatanbesar memiliki potensi alam berupa pesisir pantai yang indah dan sangat panjang dibanding pesisir obyek wisata alam lainnya. Tak mengherankan jika sekelompok masyarakat pesisir yang peduli, mulai melakukan pembersihan di sekitat pesisir pantai dipimpin kepala desa.

Letak Desa Pagatanbesar dari lokasi obyek wisata Pantai Takisung hanya sekitar lima kilometer.

Tidak ingin Desa Pagatanbesar hanya sebagai lintasan, warga setempat memberikan pilihan wisata kepada pengunjung Pantai Takisung.

Apa pilihan itu? Obyek ekowisata mangrove. Memang, saat ini tumbuhan mangrove di Desa Pagatanbesar belum rimbun seperti kondisi ekowisata mangrove pantai Indah Kapuk di DKI Jakarta atau ekowisata mangrove di Kabupaten Badung, Provinsi Bali.

Meski begitru, di kawasan budidaya tanaman mangrove itu sudah tak terhitung warga berkunjung atau sekadar swafoto bersama teman dekat atau rombongan.

Bagi yang punya hobi memancing, ada dua jembatan yang dibikin hingga ke bibir pantai. Di situ setiap sore hingga malam hari ada saja yang memancing ikan.

Jika ingin salat atau berteduh menikmati hidangan di dalam kawasan hutan mangrove, tersedia dua gazebo untuk berkumpul dan berteduh, jika lelah berjalan.

Fasilitas lainnya seperti tempat ibadah dan kamar kecil untuk buang air atau mandi belum dibangun karena keterbatasan dana swadaya dari masyarakat.

Samdiani, Kepala Desa Pagatanbesar, mengaku potensi ekowisata mangrove terinspirasi dari ekowisata mangrove di luar daerah. “Saya tidak pernah melihat langsung hanya melalui internet saja. Tapi itu sudah memotivasi kami mewujudkan ekowisata mangrove,” ujarnya.

Tahun ini, dana yang bersumber dari program kawasan pesisir tangguh (PKWT) digelontorkan Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah berakhir.

PKWT di Tanahlaut ini ada tiga desa, Takisung dan Desa Tabanio. Cuma hanya Desa Pagatanbesar yang sejak awal program PKWT bergulir 2014 lalu, kawasan hutan mangrove itu akan dikembangkan menjadi obyek wisata.

Bagaimana dana tahun ini? Samdiani mengaku sebelumnya dana desa dicairkan pemerintah, penanaman dan perawatan serta budidaya mangrove didanai secara swadaya. (tar)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved