Banjarmasin Post Edisi Cetak

KUMPULAN PUISI: Dahaga

Rindu Ibu Lewat usiamu yang terpahat di suluk jantungku Doa-doa membiak membatu, gegar ke laut juga Lewat kabut wajahku yang menyulut hikayat gelap G

KUMPULAN PUISI: Dahaga
BPost cetak 

Kemana mereka dilarikan?
nyiur dan siwalan, rumput-rumput
serentak kembala ke Jakarta
tinggallah di sini
: Tamidung yang hening
di tengah bising mesin-mesin

Pukul Tujuh

Pukul tujuh aku berangkat, meladang
menenggala yang menjadi pikiran
sedang menunggu kiriman ibu
akar siwalan bergantung nama-nama hujan
Di ladang, aku berjagung
suluk ke tubuh tanah: berebut ruang
saling tikam dengan gendung-gedung
setelah kawat-kawat itu lebih dulu menjelma bakung
Pukul satu siang, aku menemui ayah
dari matanya ia berharap segalanya nguning,
padi-padi yang mulai ia panggang
di bawah terik harapan

Sajak Para Rombonan
(Ke Jakarta)

Di antara terjal jalan dan tanah Madura
dan molek kemajuan kota
ia susun masa depan di selembar kain
yang kelak tak bisa diwarnai
selain warna putih
Sebentar lagi ritual cocok pelan tiada
aku sulit mencari yang suka pada tanah
yang suka berbaur lumpur dalam gembur Madura
Sebab Jakarta ia temukan
serupa intan kemajuan
ia dapat menyekolahkan anak-anaknya
ia dapat mencecap hidup megah

Setangkup Pagi di Sini
; teruntuk Tan

Aku ingat, perkenalan kita
sepenuhnya bermula dari buku-buku
aku menjumpaimu di sana
tubuh ringkih penuh perlawanan
Di sini telah “pagi,” Tan
kuambil kata itu dari mulut orang-orang menang
sementara kita yang kalah
siap-siap dimakamkan
Barangkali, tak cukup setangkup tangan
anak negeri yang mendoakanmu
yang melengkingkan nama-nama kembali

* Wardi, kelahiran Sumenep, Madura, 1996. Menulis puisi, cerpen dan esai. Puisinya terkumpul dalam beberapa antologi bersama. Mahasiswa aktif Fakultas Hukum UP 45 Yogyakarta.

Puisi ini ditayangkan Banjarmasin Post edisi cetak, Minggu (18/6/2017)

Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved