Breaking News:

Berkah Ramadan

Tausiyah: Budaya Keilmuan

Dalam aktivitas tadarus, sejatinya mengandung pengertian memahami dan mempelajari Alquran sehingga ada peningkatan keilmuan tentang ajaran Islam.

Tausiyah: Budaya Keilmuan

Oleh: Dosen Pascasarjana Unmuh Surakarta, Dr Mutohharun Jinan MAg

BANJARMASINPOST.CO.ID - Secara kultural, selama Ramadan kaum muslim membudayakan tadarus. Dalam aktivitas tadarus, sejatinya mengandung pengertian memahami dan mempelajari Alquran sehingga ada peningkatan keilmuan tentang ajaran Islam.

Imam al-Ghazali, sang hujjatul Islam memberikan kriteria untuk mengukur baik tidaknya prestasi seseorang melalui ungkapan, “Saya lebih senang berteman dengan orang-orang bodoh, tetapi mengakui kebodohannya dan berusaha menghapus kebodohannya daripada berteman dengan orang pandai yang merasa dirinya cukup dan tidak ada keinginan untuk menambah ilmunya.”

Tekanannya bukan pada mana lebih baik, menjadi orang bodoh atau orang pandai. Tetapi menegaskan kemuliaan seseorang ditentukan oleh seberapa kuat keinginan untuk maju dan mengembangkan ilmu yang dimiliki.

Budaya keilmuan menjadi kata kunci bagi kemajuan.  

Masyarakat Indonesia saat ini menghadapi masalah yang sangat serius, yaitu rendahnya budaya keilmuan. Hal ini ditandai oleh rendahnya budaya baca, gemar mencari ilmu, produktivitas karya ilmiah, dan kreativitas teknologi.

Karena lemahnya budaya ilmiah, bangsa Indonesia belum mampu membangun keadaban publik, melahirkan produk budaya yang unggul, dan menggunakan teknologi secara produktif.

Kelemahan dalam budaya keilmuan juga mengakibatkan sebagian warga bangsa sering bertindak tidak rasional, primordial sempit, dan beragam perilaku klenik atau mistis yang mematikan akal sehat.

Di antara hambatan untuk maju adalah perasaan berpuas diri atas apa yang telah dicapai.

Haji Abdul Karim Amrullah, yang akrab disapa Buya Hamka mengatakan, “Katak yang terkurung di bawah tempurung menyangka lingkaran tempurung itulah langit (Lembaga Budi, Renungan 11).

Semangat tadarus sejatinya adalah semangat mempelajari kitab suci untuk meraih pemaknaan baru sesuai kebutuhan zaman. Tadarus bukan sekadar membaca kitab suci tetapi perlu diperluas sebagai satu di antara pendalaman ilmu yang siap dipraktikkan dalam karya nyata. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved