Berkah Ramadan

Tiap Hari, Muslim Jerman Harus Jalani Puasa Selama 19 Jam

Masduki, warga Indonesia yang kini tinggal di Jerman untuk menyelesaikan studi doktoralnya di bidang Kajian Media mengalami hal itu

Tiap Hari, Muslim Jerman Harus Jalani Puasa Selama 19 Jam
Bild.de / Bern Krauss
Danny Blum tengah melakukan gerakan ruku saat melaksakanan salat 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Perjalanan hidup di negeri orang selalu menarik untuk dikisahkan. Apalagi hidup di suatu negeri yang baru dikenal dengan latar belakang sosial dan budaya yang sangat berbeda dengan negeri asal.

Masduki, warga Indonesia yang kini tinggal di Jerman untuk menyelesaikan studi doktoralnya di bidang Kajian Media mengalami hal itu. Dosen pada Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta ini sudah dua kali menjalani Ramadan di Jerman.

Ading sedang melakukan studi Perbandingan Lembaga Penyiaran Publik di Negara Transisi di University of Munich Koln Jerman. Pria yang pernah menjabat Direktur Program dan Produksi Radio Republik Indonesia (RRI) ini mengaku setiap kali memasuki Ramadhan, banyak mendapat pertanyaan dari keluarga dan juga kolega di Indonesia.

"Bagaimana suasana puasa di Jerman tahun ini? Berapa lama waktu tempuh puasa satu hari? Apa menu berbuka puasa? Bagaimana cara menyiasati kondisi lapar yang ekstrim selama ibadah puasa?," ujarnya merinci pertanyaan yang dia terima

Namun Ading yang masih tercatat sebagai anggota Majelis Etik AJI Indonesia ini memandang, pertanyaan-pertanyaan semacam itu biasanya lebih merupakan bentuk keingintahuan, mungkin juga apresiasi terhadap kondisi yang barangkali jauh lebih berat, ketimbang menjalani puasa di Indonesia.

Kisah ini ditulis ketika puasa Ramadhan 1438H memasuki hari ke-24. "Alhamdulillah, hari ini memasuk hari ke 24 puasa di Jerman, semua berjalan baik," ujar mantan Ketua DPP Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia ini

Kisah menjadi kian menarik karena kepergian Ading tidak sendirian, tetapi bersama sang istri, Ninik Sri Rahayu SE MM yang juga tengah mengambil program doktor di University of Cologne tentang Islamic micro finance and women empowerment. Keduanya menjalani studi di universitas yang berbeda.

Sebagai warga minoritas, tutur Ading, berpuasa dalam durasi yang panjang justru kian diminati kaum muslim di Jerman, bahkan menurutnya di seluruh Eropa. "Catatan ini barangkali bisa menjadi jawaban singkat. Semoga bermanfaat," harapnya.

Kalender Ramadhan di Jerman tahun ini bertepatan dengan pergantian dari musim semi ke musim panas. Cuaca tidak begitu stabil, cenderung suhu panas meninggi, terutama hari kedua dan ketiga bulan puasa, 28-29 Mei yang lalu.

Suhu udara mencapai 35 derajat, padahal biasanya minggu pertama puasa menjadi semacam hari hari awal adaptasi dari kondisi bebas makan.

Halaman
1234
Editor: Didik Trio
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved