Berita Banjarbaru

Ada Apa Ya? Kok Petani Banjarbaru Ini Nekat Buang 2 Kuintal Cabai Hasil Panennya

Seperti halnya penyakit cacar, satu buah cabai yang terkena virus cacar bisa menularkan ke buah cabai lainnya.

Tayang:
Editor: Didik Triomarsidi
dokumen
BPost edisi Senin (10/7/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Tidak hanya manusia terserang penyakit cacar. Tumbuhan seperti tanaman cabai pun tak luput dari virus cacar. Seperti dialami tanaman cabai tiung milik Maryono di Landasan Ulin Utara, Kota Banjarbaru, rusak akibat diserang virus cacar.

Seperti halnya penyakit cacar, satu buah cabai yang terkena virus cacar bisa menularkan ke buah cabai lainnya.

“Jadi, buah yang terkena cacar harus segera dipetik, agar tidak menular ke buah cabai lainnya,” kata Maryono, Minggu (9/7).

Kini hanya bisa pasrah dan tak bisa berbuat banyak menyaksikan tanaman cabai tiung miliknya terbuang sia-sia. “Ini cabai rusak yang baru saja dipetik, kemarin-kemarin sudah banyak yang saya buang,” tuturnya.

Petani cabai di Landasan Ulin Utara, Jalan Tol Lingkar Utara, ini berharap Cabai yang bisa menjadi penghasilan lebih justru membuatnya merugi. Kini dari petani harga satu kilogram cabai tiung masih standar yaitu Rp 30 ribu. Harga itu menurut Yono pas dengan modal yang dia keluarkan.

Sementara, lanjut dia, harga obat-obatan pengusir virus mahal. Dia pun terpaksa membayar banyak tenaga (pekerja) untuk memetik buah cabai yang terkena cacar, agar tidak menyebar ke buah lainnya.

“Cabai yang terkena cacar yang dipetik mau tidak mau harus dibuang. Ada dua kuintal cabai tiung dari setengah hektare kebun yang dibuang,” beber Yono.

Terjangkitnya virus cacar pada buah cabai, sebut dia, disebabkan cuaca yang tidak menentu. Embun bulu dan embun tepung tanaman cabai menjadi gampang terserang cacar. “Panas menyengat di pagi hari, dan hujan sore hari membuat cabai gampang rusak,” jelas dia.

Menanam cabai bagi Yono sudah menjadi kebiasaan, sebagian lahan miliknya digunakan untuk tanaman cabai. Diakuinya, tanaman cabai tidak begitu favorit karena sulit memelihara tanaman ini.

“Sudah biasa menanam ini, tapi juga tidak tidak menyangka bakal banyak rusak seperti ini,” cetusnya.

Selain Yono, Yani, petani cabai di Tambak Tarap, Kelurahan Syamsuddin Noor juga mengalami nasib serupa. Satu hektare lahan cabai tiung miliknya juga terserang virus cacar. Virus yang menimbulkan pembusukan kulit cabai dibeberapa titik itu muncul di setiap Batang tanaman cabai.

“Ini sedang dibersihkan, kita bayar orang, dua kali bayar. Bayar bayar buat petik cabai bagus dan bayar buat petik cabai kena cacar,” ujarnya.

Yani mengakui nasib petani bergantung pada cuaca. Namun dia mengaku pasrah dan hanya berharap masih ada sedikit untung dari tanaman cabang miliknya.

“Biaya perawatannya mahal, saya berharap ada subsidi obat-obatan bagi para petani di musim seperti ini,” harapnya.

Selain di Tambak Tarap, dan Jalan Tol Lingkar Utara, rusaknya cabai petani juga terjadi di Jalan Kurnia Kelurahan Laura, dan Jalan Kasturi Kelurahan Syamsuddin Noor Banjarbaru.

Selengkapnya baca harian Banjarmasin Post, Senin (10/7//2017), atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

BPost edisi Senin (10/7/2017)
BPost edisi Senin (10/7/2017) (dokumen)
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved