Berita Regional

Mimpi Santri Mondok di Turki Jadi Kenyataan, Risa Pun Dua Tahun Jalani Seleksi

Amar Sidiq (17), santri asal Batam bercerita kepada Tribun, mengalami proses seleksi selama dua tahun guna mendapatkan beasiswa

Mimpi Santri Mondok di Turki Jadi Kenyataan, Risa Pun Dua Tahun Jalani Seleksi
dokumen
BPost edisi Rabu (12/7/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - DUA tahun lamanya, Risalatul asal Jember Jawa Timur dan Amar Sidiq asal Batam menunggu mimpi yang akhirnya terwujud. Keduanya, bersama 134 santri lainnya sama-sama mewujudkan mimpi menimba ilmu agama di Turki. Para santriwati Tahfidzul Quran ini beruntung mendapat beasiswa dari United Islamic Cultural Centre of Indonesia (UICCI).

Amar Sidiq (17), santri asal Batam bercerita kepada Tribun, mengalami proses seleksi selama dua tahun guna mendapatkan beasiswa ke negara yang memiliki sejarah Islam cukup panjang itu. Proses yang dilaluinya pun cukup panjang, hingga mendapatkan tiket ‘mengantongi tiket’ belajar di Turki.

Di tahap awal adalah menghafal Alquran. “Dua tahun (saya melalui proses), pertama mulai menghafal Alquran,” ujar Amar ditemui di Gedung Kementerian Agama RI, Jakarta Pusat, Selasa (11/7).

Usai menghatamkan Alquran, proses berlanjut mempelajari sejumlah bahasa yang diperlukan saat menuntut ilmu di negara tersebut. Amar pun belajar bahasa Turki dan bahasa Arab.

Tidak hanya itu, buku-buku yang menerapkan tentang agama Uslam pun turut dia pelajari. “Setelah kita khatam (Alquran), setelah selesai menghafal, masuk belajar bahasa Turki, bahasa Arab, dan kitab-kitab lainnya (terkait islam),” jelasnya.

Setelah giat belajar dan sukses melewati serangkaian tahapan pembelajaran, Amar pun dinyatakan lolos. Amar dinyatakan sebagai satu dari 136 santri dan santriwati yang akan diberangkatkan ke Turki.

“Setelah semua siap, baru kita berangkat ke Turki,” tegasnya.

Remaja asal Batam ini nantinya akan menempuh studi selama 3 tahun di kota Istambul.

Pengajaran yang akan dia peroleh di Turki, berbeda dengan pengajaran agama yang dia dapatkan di tanah air. Dia pun merasa sangat antusias untuk mondok di Pesantren yang ada di negara yang memiliki sejarah panjang terkait peradaban Islam itu.

“Kalau di Indonesia udah biasa, kalau ini kan pesantrennya dari Turki,” katanya.

Dia menilai ada perbedaan terkait budaya Islam dan cara menghafal Alquran di Indonesia dan di Turki.”Dari segi budayanya beda, cara menghafalnya juga beda,” ucap Amar.

Tidak hanya Istambul menjadi tujuan para santri, ada sejumlah kota yang juga menjadi destinasi pendidikan di antaranya kota Ankara, Bursa, dan Balikesir.

“Ya kalau saya pribadi (akan melanjutkan studi) di Istambul, beda-beda (dengan santri lainnya), jadi nanti kita ada yang di Istambul, ada yang di Bursa, di Ankara,” beber Amar.

Selengkapnya baca harian Banjarmasin Post, Rabu (12/7//2017), atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved