Puisi Banjarmasin Post

Dahaga

Setelah berbulan-bulan laut, menyembunyikan semerbak karangnya, kini sampailah aroma itu ke lambung kampung, kembalilah bapak menyerang ombak

Editor: Elpianur Achmad
Halaman 1 harian Banjarmasin Post edisi Cetak Minggu (16/7/2017) 

Karya: Daviatul Umam

Bapak Kembali Melaut

Setelah berbulan-bulan laut
menyembunyikan semerbak karangnya
kini sampailah aroma itu ke lambung kampung
kembalilah bapak menyerang ombak
malam-malam semakin suam
bara doa yang menyala biru dari sajadah ibu
angin menjilat-jilat
ikan-ikan merapat
menyembuhkan alat-alat dapur yang sekarat
suatu sore
bapak pulang membawa cumi
kawan baik di jaring teri
ibu memasaknya bagi lidah yang gundah
dengan nasi jagung
kuah hitamnya mencecap mesra rongga basmalah
aku yakin
selama ini laut bukan tidak acuh
pada kerontang dada nelayan
barangkali ia hanya menguji kesetiaan sampan
atas kecemburuannya terhadap para perantau
yang mencampakkan penghasilan asal
sebagaimana banyak ladang petani jual
pelayaran pun dianggap hidup yang lebih selundup
ke perut petaka
sehingga perahu-perahu
turut tenggelam ke lubang saku
disihir jadi bertumpuk-tumpuk toko jelita
berdesakan di jakarta

Kabar dari Dian

“Kawan dungu yang baik
terima kasih telah menumpahkan
secangkir darah ke meja kami
aromanya meracuni hati
teruslah terus menyelam
kami nanti luka-luka berikutnya”

mengertilah dian!
aku takut tenggelam
terjepit terumbu karang afrizal
namun juga tak ingin mengambang
diayun-ayun gelombang taufiq
kedunguanku kira-kira adalah
cara mengadili keduanya

Panen Jagung

Tik petik mari kau petik
sebelum gigi rayap atau tikus
semakin mencemberutkanmu
dalam kobar yang tak terbayar

tabahlah jika genggaman kini
tidak seanugerah dulu-dulu lagi
namailah ujian atau kutukan
atas keedan-edanan zaman

namun jangan sesekali patah
untuk kembali menghijaukan
tanahmu yang gelebah ambigu
dijajah dosa dan kota angkara

tik petik mari kau petik
syukuri perih sayat hayat ini
disengat deras keringat sendiri
pun gatal-gatal dari luluh tubuh

jadikan wasiat paling berkat
akan anak-cucu modernmu itu
bahwa hidup bukan kulit langit
yang selalu biru dan bercahaya

bahkan katakanlah ke takdir
soal bumi nan usang hakikatnya
bakal tetap kau perjuangkan
dengan ruah darah arus airmata

tik petik mari kau petik
buahku yang kian siap telanjang
dijual ditanak maupun disimpan
bekal masa depan buram muram

masa-masa di mana bijiku
tak tentu orang-orang masih acuh
tersebab mereka lebih memilih
kilau mimpi khianat di perantauan

dan kau-kau yang sedang setia
pada tangisku musim demi musim
mudah-mudahan bertahan iman
meratapi kehancuran mendatang (*)

Baca Lengkap di Harian Banjarmasn Post Edisi Minggu (16/7/2017)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved