Puisi Banjarmasin Post

Dahaga: Gina

Gerimis di tubuhmu harga mati,Waktu sandaran batu-batu, beli kain tak pasti, Laut, tak cukup tahu tak memilah, akar hirup, berbelah ujung kayu, Amarah

Editor: Elpianur Achmad
Halaman 1 Harian Banjarmasin Post Edisi Minggu (23/7/2017) 

Karya: PUPUT AMIRANTI

Gina

Gerimis di tubuhmu harga mati
Waktu sandaran batu-batu
beli kain tak pasti
Laut, tak cukup tahu
tak memilah, akar hirup
berbelah ujung kayu, Amarah
tak mengerti

Nanti Februari
Kapal senja yang karam
karang di keluan
tak akan, tak akan haluan berlalu
Mungkin percaya, mungkin laut
kecemasan dan buatan
Ibu merenda sendiri, kisah-kisah
bermukim di jiwa dan wahyuku
hidup sendiri
jadi rumah bernama kekembang
Tak ada riuh tak lari
tak ada maut tenggelam
sekali lagi, kau panggil namaku
(bukan lari) bumi tak haru haluan
Lain warna
jadi hijau awan, tahun tuk teruskan

Irene

Lewat sesaji, ufuk nan matang
Genapkan bahumu, karna pagi lekas kan berlari
Tak ada badai, tak ada mata
Karna hari, Irene, akan jadi tuah-tuah
Di kesenjaan, waktu kawinkanmu jadi
Paling berharga
Di kebumian, jendelaku singgah sejenak
Bersajak; tak ada waktu yang lembaga
Hari-hari pasti
Lelucon kedermawanan
Tak ada rabu, tak ada tiang
Dekap pasti; antara nada
Puncak dan kesepian

Ruwandini, Kini

Mata yang ditinggalkan
bila bara tak sampai hujung

bila tepi, kau harap
burung-burung tembaga hijau
Antara percik dan bualan
segalanya berubah ke kesungguhan
Tinggal sampan
cerita-cerita sendiri

Panjat ke kedirian, Ruwandini
pegang tali sejenak,
bila akar-akarmu jatuh
besi ke pepohonan
sampanmu nari sendiri
curi ufuk di kesenjaan
orang-orang liar tak akan ambil
Cermin terjemahkan, segala laun
lanun, badai biru, terompah
aduk-aduk, kau tak tidur, juga tak lelap
penjagaan, mungkin nyalang
sinyal ke pendalaman
Usia kini bahasakan,
letup tak main-main
ufuk slalu biru dan awalan jatuh
tak jadi matang
diam-diam, mungkin jawaban

Prelude 3

Bulan di gemercik mana
sepi di hujung mana
Burung-burung terjal
retak tanah
akar dangau dimakan
pagi, asap kan segra lari
Hai, wahyuku, buluh yang tertidur
kemeja putih daun
lanun, di atas karung, kau lanturkan
terbang, udara mengembang
Kan kugapai, ufuk
penjara ufuk, berlari
memutar diam
ke sepanjang mana mata,
seluruh pencarian

*PUPUT AMIRANTI atau Puput Amiranti Nugrahaningrum. Lahir di Jember, 24 April1982. Karya puisinya dimuat di banyak media cetak dan daring, serta beberapa antologi puisi bersama. Selain itu juga menulis geguritan (puisi berbahasa Jawa) termuat di antologi Pasewakan (Konggres Sastra Jawa III, 2011) dan menulis serta mengadaptasi naskah drama. Guru Bahasa Inggris di SMKN 1 Nglegok ini tinggal di Blitar.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved