Berita Tanahlaut

Rapat Belum Ada Kata Sepakat, Warga Ambawang Tanahlaut Ngotot Minta Batas HGU Cukup Diberi Patok

Permasalahan lahan hak guna usaha (HGU) perkebunan di wilayah Kecamatan Batuampar yang berbatasan dengan wilayah Desa Ambawang belum ada kata sepakat.

Rapat Belum Ada Kata Sepakat, Warga Ambawang Tanahlaut Ngotot Minta Batas HGU Cukup Diberi Patok
Halaman 13 Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Kamis (27/7/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Permasalahan lahan hak guna usaha (HGU) perkebunan di wilayah Kecamatan Batuampar yang berbatasan dengan wilayah Desa Ambawang, belum menemukan kata sepakat.

Pertemuan antara manajemen perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan perwakilan warga Desa Ambawang yang dimediatori Plt Asisten I Sekretaris Daerah Tanahlaut, Bambang Kasudarisman di Aula Kantor Bupati Tanahlaut, Senin (24/7), mengalami kebuntuan.

Warga Desa Ambawang tetap bersikeras dengan keputusan awal, perusahaan perkebunan kelapa sawit tidak perlu menggali parit di lahan HGU.

Warga khawatir alat berat itu akan merusak lahan perkebunan karet milik warga yang sudah puluhan tahun digarap.

Selain itu, jika penggalian parit tetap dipaksakan akan membuat sebagian petani karet yang memanen ketakutan mendekati kebun karetnya. Padahal, karet itulah sumber penghasilan mayoritas warga Desa Ambawang.

Warga Desa Ambawang, Santoso mengaku, sebelum menggarap lahan perkebunan karet itu, awalnya bekerja mencari rotan, damar dan kayu ulin. Uang itu terkumpul dibelikan tiga petak lahan seluas empat hektare lebih.

"Dulunya saya tanami palawija dan padi pada 1990. Kemudian, harga karet ramai. Saya tanami pohon karet himgga muncul pengakuan, lahan yang ditanami masuk dalam areal HGU. Anehnya cuma di Desa Ambawang. Di Desa tetangga dingin saja. Apakah karena ada bahan galian batu bara di lahan yang kami tanami," ujarnya.

Humas perusahaan perkebunan kelapa sawit, Haji Ganie membenarkan, mediasi di Kantor Bupati Tanahlaut itu mengalami kebuntuan. Warga tetap bersikeras tidak mau lahan HGU diberi batas dengan galian parit.

"Saya sudah sampaikan bahwa, proyek galian itu hanya satu meter lebar seukuran basket ekskavator. Itupun dikerjakan di dalam lahan HGU sekitar tiga meter jaraknya dari lahan warga Desa Ambawang. Kami beri garis koridor dari lahan warga berjarak tiga meter," katanya.

Terkait keinginan warga hanya membolehkan diberi patok batas. Haji Gani tidak yakin patok batas itu tidak hilang.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved