Breaking News:

Waduh, Sampai 2019 Begini Realita dan Harapan Sektor Properti di Tanah Air

Upaya pemerintah untuk mendorong sektor properti bangkit dari keterpurukan, belum menampakkan hasil.

Editor: Ernawati
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Upaya pemerintah untuk mendorong sektor properti bangkit dari keterpurukan, belum menampakkan hasil.

Padahal, secara teori, upaya-upaya tersebut mestinya bisa membangkitkan gairah membangun bagi pengembang, dan membeli bagi konsumen.

Sebut saja deregulasi berupa Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) XI mengneai penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) final menjadi 0,5 persen dan tarif Bea Perolehan atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB) menjadi maksimal 1 persen.

Berikutnya PKE XIII tentang Perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Belum lagi nilai tukar Rupiah yang terus menunjukkan stabilitas berada pada kisaran Rp 13.300, dan suku bunga acuan Bank Indonesia juga rendah, 4,75 persen, serta tingkat inflasi 4,37 persen.

Namun, apa daya, semua faktor dan kondisi tersebut belum mampu mendongkrak sektor properti kembali kepada khittah-nya sebagai lokomotif ekonomi Nasional. Disebut sebagai lokomotif karena dapat mengerakkan sekitar 177 industri lainnya.

Demikian halnya dengan pengampunan pajak alias tax amnesty yang digembar-gemborkan bisa mengalir deras ke sektor properti, ternyata minim, untuk tidak dikatakan nihil.

Apa yang salah dari semua ini?

Managing Director Savills Indonesia Craig Williams secara khusus berbincang dengan KompasProperti, Rabu (26/7/2017). Dia mengatakan, sektor properti Indonesia belum akan bangkit dalam waktu dekat.

Bahkan, dia berani memprediksi, sinyalemen kebangkitan itu belum muncul hingga akhir 2019.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved