Berita HSS
Begini Trik Khusus Siti Membuat Gula Merah Tradisional Menjadi Manis
Memasak air aren juga harus di atas tungku yang terbuat dari tanah liat dengan bahan bakar kayu, bukan menggunakan kompor modern.
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pembuatan gula merah secara tradisional dengan bahan baku air aren terus dipertahankan para pengolah gula merah di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, pengolahan gula merah di sejumlah desa masih tetap mengandalkan olahan asli secara turun temurun.
Gula merah yang berasal dari bahan baku air nira atau aren harus direbus selama tujuh jam sampai delapan jam lamanya dalam kuali atau wajan besar.
Memasak air aren juga harus di atas tungku yang terbuat dari tanah liat dengan bahan bakar kayu, bukan menggunakan kompor modern.
Selain itu, saat memasak air, aren harus diaduk-aduk sampai air aren mengental berwarna merah dan bisa dicetak dalam tuangan berbentuk setengah bola.Saat mengaduk air aren juga tidak sembarangan. Bila tidak sesuai treknya, maka hasil gula merah bisa tidak manis.
Desa Keliring dan Desa Jambu Hulu Kecamatan Padang Batung, masih banyak warganya membuat gula merah secara tradisional. Banyaknya pohon aren di daerah ini dimanfaatkan warga yang sudah turun-temurun membuat gula merah seperti Nor Aisiah (45), warga Desa Jambu Hulu yang sudah 30 tahun lamanya membuat gula merah.
“Membuat gula merah sudah menjadi pekerjaan sampingan turun-temurun. Untuk menambah penghasilan,” uja Nor Aisiah.
Untuk membuat gula merah, perlu kesabaran untuk bisa menghasilkan gula merah yang manis tanpa bahan campuran pemanis.
“Manis asli gula merah dari bahan baku aren menjadikan gula merah kita tetap laku di pasaran. Biasanya dalam satu kawah bisa menghasilkan 12 biji gula merah,” katanya.
Satu biji gula merah beratnya sekitar empat ons. Harga perkilo dijual Rp 15 ribu. Dalam satu hari, biasanya Aisiah bisa membuat gula merah untuk dua kawah, namun tergantung bahan bakunya.
Di Desa Kaliring Dalam, Siti Munawarah (39) dan Sakerani (43) juga menekuni membuat gula merah. “Di sini banyak pohon aren dan ilmu membuat gula habang sudah turun-temurun,” tutur ata Siti Munawarah.
Hampir setiap hari dia membuat gula merah dibantu suaminya. Pagi hari suami mengambil air aren yang lebih dikenal oleh warga dengan sebutan lahang. Lahang lalu dikumpulkan, setelah terkumpul sekitar 45 liter sampai 50 liter baru di masak ditungku yang sudah ada.
Meski proses memasak cukup mudah, tetapi ada trik-trik khusus yang dilakukan, agar hasilnya yang didapat gula merah berasa manis.
“Bila lahangnya agak tua hasilnya bisa kurang manis. Tapi, dengan trik-trik tertentu hasilnya menjadi manis,” ucap Siti yang enggan menyebut triknya agar gula merah menjadi manis alami.
Setiap hdia ari membuat gula merah dari 45 liter sampai 50 liter lahang yang dimasak dan bisa menghasilkan sekitar sepuluh kilogram gula merah yang siap dijual kepada pembelinya.
Hasil gula merah produknya tidak dijual langsung ke pasar, namun sudah ada orang yang membelinya yang langsung datang kerumah. Harga perkilogram dijual Rp 15 ribu.
“Alhamdulillah, hasilnya cukup membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Buat menambah penghasilan selain hasil dari pertanian,” pungkas Siti tambahnya. (ryn)
Baca Lengkap di Harian Metro Banjar Edisi Senin (14/8/2017)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/banjarmasin-post-edisi-cetak_20170814_112820.jpg)