Berita Kotabaru

Lima Dari 8 Desa Belum Teraliri Listrik, Di Pulau Sebuku Satu Lembar Foto Copy Rp 1.000

Keterbatasan operasional listrik dari perusahaan listrik di wilayah setempat, membuat usaha masyarakat tidak bisa berkembang khususnya pada siang hari

Lima Dari 8 Desa Belum Teraliri Listrik, Di Pulau Sebuku Satu Lembar Foto Copy Rp 1.000
banjarmasinpost.co.id/helriansyah
Suasana kehidupuan masyarakat Pulau Sebuku Kotabaru 

BANJARMASINPOST.CO.ID,KOTABARU - Kecamatan Pulau Sebuku, salah satu kecamatan yang terpisah dari daratan Pulaulaut (ibu kota kabupaten) Kotabaru. Kecamatan Pulau Sebuku memiliki delapan desa, namun dari delapan desa tersebut lima desa belum teraliri listrik.

Antara lain desa yang belum teraliri liatrik adalah Desa Kanibungan, Belambus, Mandin, Kanibungan, dan Desa Sekapung.

Sementa tiga desa lainnya yakni, Desa Rampa, Sungaibali, dan Tanjung Mangkok sudah teraliri listrik dari perusahaan listrik. Meski demikian, tiga sudah teraliri liatrik masih mengalami kekurangan.

Pasalnya, tiga desa tersebut hanya terlayani listrik dari perusahaan listrik hanya 12 jam (18.00-06.00 Wita). Semenyara hari lainnya listrik tidak menyala.

Terkecuali Minggu, Jumat atau hari libur nasional listrik menyala siang hari, tapi hanya sampai pada pukul 14.00 Wita.

Keterbatasan operasional listrik dari perusahaan listrik di wilayah setempat, membuat usaha masyarakat tidak bisa berkembang khususnya pada siang hari. Di antaranya cukur rambut, usaha foto copy dan usaha lainnya yang mengandalkan daya listrik.

Ironis, selain usaha kecil dilakoni pelaku usaha di wilayah setempat stagnan. Pun warga yang memiliki keperluan dengan foto copy terpaksa merogok kocek lebih, ketika ada keperluan mendesak di siang hari.

Untuk satu lembar foto copy warga tidak hanya merogoh kocek Rp 1.000. Namun, saat dalam kondisi urgent (siang) warga yang mengeluarkan biaya lebih, karena harus membelikan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium untuk pelaku usaha foto copy mengoperasikan mesin ginset.

"Benar sekali. Kalau ada keperluan mendesak (siang) warga, misal foto copy KTP atau KK, tidak bisa dilayani. Kecuali dengan jumlah banyak. Atau yang ingin memfoto copy mau membelikan BBM," kata Isna salah seorang pemilik usaha foto copy di Desa Sungaibali.

Diakui Isna, warga memerlukan foto copy pada siang hari, selain untuk kebutuhan mendesak. Tapi juga sering dialami para guru di sekolah-sekolah di wilayah tersebut.

"Kadang-kadang kan ada tugas mendesak di sekolag yang memerlukan foto copyan," kata Isna yang juga adalah seorang guru, Sabtu (23/9/2017).

Isna mengakui, karena keperluan yang mendesak tidak jarang kalau masyarakat ingin memfoto copy, selain harus dengan jumlah banyak. Tapi juga harus membelikan premium untuk mengoperasikan mesin foto copy. Kecuali menfoto copy pada malam hari saat listrik menyala, harga perlembar Rp 500.

"Kadang merasa kasihan juga dengan warga. Karena listrik tidak menyala siang hari, kecuali Jumat dan Minggu atau hari libur nasional. Para nelayan kadang mahal membeli es untuk pengawet ikan. Satu biji Rp 1.000. Itu pun membelinya malam," jelasnya.(*)

Penulis: Herliansyah
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved