Ekonomi dan Bisnis

Bekraf Tawarkan Fasilitasi Pasarkan Produk ke Luar Negeri, Ayo Siapa yang Mau?

Diungkapkan Kepala Sub Direktorat Pasar Retail Luar Negeri Bekraf, Noviza Dwiyati Arsyad saat menghadiri Bimbingan Teknis Strategi

Bekraf Tawarkan Fasilitasi Pasarkan Produk ke Luar Negeri, Ayo Siapa yang Mau?
hasby
Bimbingan Teknis Strategi Pemasaran Produk Kreatif ke Luar Negeri di Grand Dafam Hotel Banjarbaru, Selasa (31/10). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Ada berapa faktor kenapa produk ekonomi kreatif Indonesia masih sedikit, seperti masih rendah kualitas, kebijakan pemerintah pusat dan daerah belum mendukung, belum banyak dilirik investor, akses belum terbuka, bahan baku yang terbatas, teknologi dan infrastruktur yang belum mendukung penuh.

Diungkapkan Kepala Sub Direktorat Pasar Retail Luar Negeri Bekraf, Noviza Dwiyati Arsyad saat menghadiri Bimbingan Teknis Strategi Pemasaran Produk Kreatif ke Luar Negeri di Grand Dafam Hotel Banjarbaru, Selasa (31/10).

Lebih lanjut dia mengatakan, oleh sebab itulah dibentuk Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf). Bekraf lembaga pemerintah non kementrian yang dibentu 2015 oleh Presiden Jokowi.

Ada 16 sub sektor ekonomi kreatif yang ditingkatkan Bekraf. Dari ke 16 itu ada tiga sub sektor yang jadi unggulan, kuliner, fashion dan griya.

Bekraf juga memprioritaskan film, aplikasi permainan dan musik. Pentingnya peran pemerintah pusat dan daerah serta peran media untuk mempromosikan usaha kreatif.

"Bagi juara, dibukanya arus globalisask ini maka melihatnya menjadi peluang untuk terus berkembang. Saatnyalah kebebasan memasarkan produk ke negara lain," katanya.

Sejauh ini Bekraf baru hadir di Kalsel, belum mendapatkan data dari pemerintah daerah apa saja yang sudah siap untuk diakurasi ke luar negeri. Sharing ilmu tentang pemasaran bagi usaha ekonomi kreatif di Kalsel.

"Selalu open call, masukan karya dan nanti diakurasi se Indonesia. Eropa, Amerika pangsa pasarnya beda-beda jadi tidak bisa disamaratakan," imbuhnya.

Bekraf hadir juga untuk meningkatkan nilai ekonomi, mulai dari desain yang utama. Seperti saingan India dan Cina yang siap, desainer-desainernya sudah internasional.

Ekonomi kreatif ada ekosistemnya, tidak bisa menunggu pasar yang disiapkan. Harus semua menjalani, kalau belum mengetahui pasarnya di mana maka belum siap produknya untuk siapa dan perlu melakukan riset lagi, tidak bertemu pasar artinya ada yang salah.

"Belum ada respons, berarti belum ada yang pas, desain dan harganya. Kalau menunggu, ada yang harus diperbaiki dalam bisnis tersebut," tambahnya.

Pada acara yang juga difasilitasi Direktorat Pengembangan Pasar Luar Negeri itu juga menghadirkan anggota Komisi X DPR RI, Zainul Ariffin, Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Banjar, Aidi Hikmatullah, dibuka Asisten Bidang Pemerintahan Kesejahteraan Kabupaten Banjar, Zainuddin Hikmatullah.

Zainuddin Hikmatullah mengakui, salah satu kendala bagi pelaku usaha ekonomi kreatif adalah permodalan. Dirinya berpesan kepada peserta agar terus menimba ilmu untuk mengembangkan usaha.

"Menjadi harapan melalui kegiatan ini bisa meningkatkan perekonomian dan kesejahteraaan bagi pelaku usaha kreatif di Kabupaten Banjar," harapnya.

Penulis: Hasby
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved