Berita Hulu Sungai Tengah

Toko Pakaian Plasa Murakata Makin Sepi Juga Gara-gara Toko Online dan Masalah Ini

Royani, pemilik toko pakaian mengatakan, mengenai toko di luar Pasar, saat ini memang banyak pedagang yang membuka kios

Toko Pakaian Plasa Murakata Makin Sepi Juga Gara-gara Toko Online dan Masalah Ini
hanani
Toko-toko Plasa Murakata Barabai, Hulu Sungai Tengah (HST) makin sepi, pedagang mulai resah. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Sejumah pedagang pakaian di toko-toko Plasa Murakata Barabai, Hulu Sungai Tengah (HST) kini menghadapi masa lesunya pemasaran.

Royani, pemilik toko pakaian mengatakan, mengenai toko di luar Pasar, saat ini memang banyak pedagang yang membuka kios dan toko di halaman rumahnya. Baik toko sembako, maupun toko pakaian.

Khusus untuk pakaian, juga mulai bermunculan toko pakaian online yang dipasarkan melalui media sosial, baik facebook maupun instagram. Bermunculannya toko pakaian, baik baju, tas dan sepatu diakui sedikit banyak memengaruhi pedagang konvensional. Pangsa pasar toko Online memang berbeda pembelinya.

“Kalau online, biasanya kalangan yang ekonominya menengah ke atas. Kalau di pasar langsung, semua kalangan. Tapi sedikit banyak mungkin berpengaruh juga,” tutur salah satu pemilik toko sepatu dan tas di Plasa Murakata.

Untuk mengimbangi system dagang online, diapun mengaku rajin mempromosikan barang ditoko, melalui BBM atau WA, langsung ke pelanggan toko.

Sementara itu, pengaruh harga karet terhadap daya beli masyarakat, diakui warga perdesaan. Sahdini, tokoh masyarakat di Desa Kalibaru mengatakan, selain bertani padi, karet merupakan sumber mata pencaharian sejak dulu. “Sekarangpun warga di sini tetap menyadap, meski hasilnya belum cukup memenuhi kebutuhan keluarga,”jelasnya.

Penghasilan petani saat ini, kata Sahdini, tak memungkinkan untuk membeli barang kebutuhan di luar kebutuhan pokok. “Bahkan, untuk jajan anak-anakpun dibatasi,”ungkapnya. Mulyadi, warga Desa Kundan, Haruyan Dayak, harga karet yang lebih rendah dari harga satu kilogram gula pasir, membuat sangat mempengaruhi perekonomian masyarakat. “Kami berharap suatu saat harga karet kembali seperti dulu, agar warga kembali hidup sejahtera,”pungkasnya.

Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved