Berita Kabupaten Banjar
Melihat Haul Pangeran Hidayatullah di Cianjur, Ternyata Sultan Banjar Bergelar Ulama Berjubah Kuning
Selama berada di daerah pengasingan tersebut hingga wafat pada 24 November 1904 dalam usia 82 tahun
BANJARMASINPOST.CO.ID - SOSOK Sultan Hidayatullah Halil Illah bin Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman atau lebih dikenal sebagai Pangeran Hidayatullah atau Hidayatullah II di Kabupaten Cianjur sangat dikenal warga Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Selama berada di daerah pengasingan tersebut hingga wafat pada 24 November 1904 dalam usia 82 tahun, dia aktif menyebarkan ilmu agama Islam.
Sultan Banjar terakhir yang selama hidupnya gigih melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda dimakamkan di Bukit Joglo Desa Sawah Gede Kabupaten Cianjur. Di areal makam itu terdapat pula makam Ibunda Pangeran Hidayatullah yakni Ratu Siti serta sejumlah pangeran dan para pengikutnya. Sedikitnya ada 76 makam di areal itu.
Sabtu (25/11) digelar haul ke-113 Pangeran Hidayatullah. Terlihat para juriat dan ratusan warga menghadiri acara tahunan tersebut.
Bupati Banjar KH Khalilurrahman pun hadir bahkan memimpin pembacaan Surah Yasin, Tahlil serta diakhiri doa. Dalam kesempatan itu, Guru Khalil mengaku bersyukur bisa sampai ke makam Pangeran Hidayatullah dan bersilaturahmi dengan keturunan serta pengikutnya.
Menurut Guru Khalil, Pangeran Hidayatullah adalah Sultan Banjar yang alim dan dikenal gigih melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Pangeran Hidayatullah tidak pernah menyerah.
Seperti raja lainnya, Pangeran Hidayatulah melakukan perlawanan Waja Sampai Kaputing.
Beliau ditangkap karena ibunda Pangeran Hidayatullah yakni Ratu Siti terlebih dahulu ditangkap dan diancam digantung.
“Karena itulah beliau turun gunung dari Bukit Pamaton dan kemudian langsung dibawa ke Batavia dan diasingkan di Cianjur ini,” ujar Bupati.
Keturunan keempat Pangeran Hidayatulah, Pangeran Yusuf mengatakan Pangeran Hidayatullah menyerah karena ibunya disandera Belanda.
“Belanda mengancam melalui surat bila ibundanya akan dihukum gantung. Waktu itu pejuang Banjar yang ditangkap tidak hanya dipancung tetapi juga dimutilasi. Karena itulah, beliau tidak ingin itu terjadi pada ibunya,“ ungkapnya.
Setelah ditangkap, Pangeran Hidayatullah dibawa ke Banjarmasin dan langsung dibawa ke Batavia lalu diasingkan ke Cianjur.
Di Cianjur ini, juga turut serta ibunda serta para pangeran dan pengikutnya. Oleh sebab itu, di sini juga ada kampung Banjar.
Menurutnya, Pangeran Hidayatullah sebelum berperang melawan Belanda, belajar kepada Syekh Arsyad Al Banjari di Kelampayan.
Di Cianjur, dia menyebarkan ilmu agama dengan mendirikan pondok pesantren sehingga mendidik guru pondok.
Makanya, dulu ketika makam beliau hendak dipindahkan ke Banjar, masyarakat Cianjur keberatan karena sosok beliau adalah juga milik warga Cianjur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/haul-ke-113-makam-sultan-banjar_20171125_120257.jpg)