Berita Hulu Sungai Utara
Ngeri! Awas, Hati-hati Lewat Titian Kayu Ulin di Desa Mawar Sari
Desa Mawar Sari dan Pinangkara, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, seluruhnya merupakan daerah rawa.
Penulis: Reni Kurnia Wati | Editor: Ernawati
BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI - Desa Mawar Sari dan Pinangkara, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, seluruhnya merupakan daerah rawa.
Saat musim penghujan lahan digenangi oleh air. Sehingga akses jalan menuju dua desa tersebut berupa titian, rumah penduduk juga dibangun dengan sistem panggung.
Titian awalnya berupa kayu dan mulai rusak, pemerintah daerah secara bertahap melakukan perbaikan titian mengganti dengan semen.
Kedua desa ini berbatasan dengan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) sehingga biasanya dijadikan sebagai jalur lintas kabupaten bagi warga sekitar.
Rahmat warga Desa Mawar Sari mengatakan jalan titian sangat membantu masyarakat untuk menuju pusat kota. Meskipun titian yang dibangun tidak begitu lebar sehingga perlu kehati hatian jika melintas dan bersimpangan dengan kendaraan lain.
Warga juga memanfaatkan titian tersebut untuk mengangkut hasil perkebunan seperti jagung dan kacang tanah yang menjadi mata pencaharian warga. Beberapa titik di titian yang telah diperbaiki beberapa tahun terakhir memang ada yang telah rusak. Dirinya berharap dengan adanya pembangunan jalan ini titian yang rusak bisa ikut diperbaiki.
"Senang jika semua titian sudah diganti denga semen, titian kayu sudah mulai rusak dan licin saat basah karena hujan jadi bahaya jika dilalui," ujarnya.
Karena lebar titian tak lebih dari dua meter sehingga masih belum bisa dilalui untuk kendaraan roda empat. Warga biasanya mengangkut hasil perkebunan atau pertanian menggunakan sepeda motor atau gerobak.
Terpisah Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten HSU Agus mengatakan saat ini pihaknya memang tengah melanjutkan program pembangunan titian Desa Pinangkara - Mawar Sari.
"Anggaran sekitar Rp 1 miliar untuk melanjutkan pembangunan titian, dan terus dilakukan secara bertahap hingga titian bisa rampung seluruhnya," ujarnya.
Tingginya lahan rawa yang yang berada di dua desa ini memang tidak memungkinkan untuk dibangun jalan urukan tanah. Karena saat musim penghujan seluruhnya tergenang air.
Anggaran yang diperlukan juga akan jauh lebih mahal jika dibuat jalan uruk. (BANJARMASINPOST.co.id/reni kurnia wati)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/titian-ulin-desa-mawar-sari_20171126_182721.jpg)