Dugaan Korupsi KTP Elektronik

Pengamat Hukum Nyentrik Ini Titip Pesan kepada Setya Novanto di Sidang Keduanya

Pengamat Hukum Nyentrik Ini Titip Pesan kepada Setya Novanto di Sidang Keduanya, Apakah Itu?

Pengamat Hukum Nyentrik Ini Titip Pesan kepada Setya Novanto di Sidang Keduanya
Tribunnews.com
Pengamat hukum pidana dari Universitas Sumatera Utara, Mahmud Mulyadi. 

JPU KPK membacakan dakwaan itu di sidang kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP yang digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/12/2017).

Jaksa mendakwa politikus Partai Golkar itu Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Pada dakwaan alternatif, jaksa menyangka Novanto Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke- KUHP.

Atas serangkaian pasal yang didakwakan, Novanto terancam hukuman maksimal berupa pidana penjara selama 20 tahun.

"Misalnya, terhadap dakwaan itu dituduhkan pasal 2 dan pasal 3. Ya, pihak lawyer harus bisa memberikan apakah secara materil dan formil itu bisa dikritisi," kata Mulyadi.

Ia meminta semua pihak agar menghargai proses hukum. Sampai saat ini, kata dia, Setya Novanto masih belum terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi proyek pengadaan KTP elektronik.

"Iya, masih terdakwa, belum tentu bersalah. Belum terbukti bersalah biar proses berjalan. Pesan saya kepada Pak Setnov, sabar diri, kuatkan diri, supaya bisa saling membuktikan," tambahnya.

Pengamat hukum pidana dari Universitas Sumatera Utara (USU) Mahmud Mulyadi merasa mendadak terkenal karena Setya Novanto, yang saat ini menjalani proses hukum kasus korupsi KTP elektronik.

Terutama sejak, ia dihadirkan sebagai saksi ahli di sidang praperadilan jilid II atas penetapan tersangka Setya Novanto yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.
Apalagi karena kesaksiannya itu, ia pernah diundang dalam sebuah acara di stasiun televisi.

"Saya menjadi mendadak terkenal," tutur Mulyadi, saat berbicara sebagai moderator diskusi yang digelar Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Selasa (19/12/2017).

Halaman
123
Editor: Royan Naimi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved