Berita Banjarmasin

Paman Birin Berperan sebagai Utuh Buntat, "Kalau Ketemu Belanda Saya Banting"

Demikian petikan perkataan Utuh Buntat, tokoh preman dalam film semikolosal berlatar belakang Perang Banjar berjudul Pangeran Antasari

Paman Birin Berperan sebagai Utuh Buntat,
dokumen
BPost edisi Selasa (2/1/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Dasar kita dibunguli bubuhan Belanda. Kaina nyawa kalau tadapat unda, unda beset, imbah itu unda jerinting, unda lincai pulang. Ingatlah pepadah Pangeran Antasari, bila bubuhan nyawa ini bakawan Belanda, kada ditagur sidin tujuh turunan. Makanya kita jangan bakawanan dengan bubuhan Belanda. Akur?”

Kalimat berbahasa Banjar ini berarti, “Memang kita ini dibodohi Belanda. Nanti kalau Belanda bertemu saya, saya akan banting, setelah itu akan saya angkat, saya injak-injak. Ingat petuah Pangeran Antasari, jika kalian berkawan dengan Belanda, tidak ditegur beliau tujuh turunan. Makanya kita jangan berkawan dengan kelompok Belanda. Akur?”

Demikian petikan perkataan Utuh Buntat, tokoh preman dalam film semikolosal berlatar belakang Perang Banjar berjudul Pangeran Antasari yang diputar untuk kali pertama di Studio XXI Banjarmasin, Senin (1/1).

Preman yang antipenjajah tersebut ternyata diperankan oleh Gubernur Kalsel Sahbirin Noor. Meski wajah Paman Birin dirias sesuai peran, sang anak, Noor Azkya Alimma, masih mengenali suara ayahnya. Aksen dan logat bahasa Banjarnya begitu kental. “Iya kenal saja,” ujar Noor Azkyka Alima kepada Bpost.

Pemutaran perdana film yang disutradarai Iwan Siregar itu menarik ribuan penonton. Mereka bahkan rela nonton di selasar studio secara lesehan.

Saking antusias warga, Disdikbud Kalsel yang semula memborong empat studio harus menambahnya menjadi delapan studio. Semua penonton digratiskan.

“Total ada 1.417 tempat duduk. Itu belum termasuk yang menonton di lorong-lorong. Alhamdulilah warga sangat antusias melihat film sejarah Banua ini,” kata Kadisdikbud Kalsel, HM Yusuf Effendi.

Film Banjar, menurutnya, perlu diangkat ke permukaan karena mulai pudarnya pengetahuan warga soal sejarah dan budaya daerah ini. “Dengan media film ini warga paling tidak mengetahui sekilas sejarah Perang Banjar,” kata Yusuf.

Dia pun berharap film ini disebarluaskan melalui sekolah. “Kami lihat dulu nanti mekanismenya seperti apa. Apakah diberi kepingan VCD-nya ke setiap sekolah atau bagaimana,” ujarnya.

Film berdurasi 90 menit ini menceritakan heroiknya Pangeran Antasari melawan penjajah Belanda. Perlawanan terjadi berlangsung sejak 1859 hingga runtuhnya Kerajaan Banjar pada 1905.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved