Lorde Bikin Geram Pendukung Yahudi

Sikap penyanyi peraih Grammy Award asal Selandia Baru, Lorde, yang beberapa waktu lalu membatalkan konsernya di Tel Aviv, Israel

Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sikap penyanyi peraih Grammy Award asal Selandia Baru, Lorde, yang beberapa waktu lalu membatalkan konsernya di Tel Aviv, Israel, membuat geram para pendukung negara Yahudi tersebut. Dia dikecam sebagai anti-Yahudi.

Padahal itu dilakukannya sebagai protes atas sikap Presiden Amerika Serikat menyetujui ibu kota Israel, yang berdiri pada 1948, dipindah ke Yerusalem. Padahal jelas-jelas, kota itu ditinggali warga Palestina berabad-abad.

Dilansir dari Dailymail, salah satu protes kepada penyanyi 21 tahun itu datang dari Shmuley Boteach, pendiri This World: The Values Network. Dia sengaja memasang iklan besar di laman Washington Post pada akhir 2017.

Baca: Pria Aborigin Ini Rela Pergi Sejauh 2.000 Mil untuk ke Kampus Ini, Ternyata Tujuannya Bikin Haru

Baca: Suami dan Selingkuhan Mengejek Istri dengan Sebutan Sapi, Lihat yang Dilakukan Wanita Ini

Di halaman kelima Washington Post itu, dipasang sebuah iklan besar dengan gambar wajah Lorde, yang bertuliskan “Lorde and Selandia Baru menolak Syiria menyerang Israel”, sambil menyebut Lorde sebagai seorang anggota gerakan anti-Yahudi fanatik.

Dalam iklan itu, terdapat juga tulisan bernada sinis mengenai keputusan Lorde yang tetap menggelar konser di Rusia, sehingga dianggap sebagai dukungannya kepada Presiden Putin yang mendukung genosida di Syiria di bawah rezim Presiden Bashar Al-Assad.

“Selagi Lorde mengklaim peduli pada HAM, dia memilih untuk melanjutkan dua konser di Negara Putin, Rusia, meskipun dia (Putin) mendukung rezim genosida Presiden Syiria Bashar Al-Assad,” ujar kalimat tertulis dalam iklan tersebut.

“Ayo boikot pemboikot dan beritahu Lorde dan teman-teman fanatiknya bahwa pembenci Yahudi tak punya tempat di abad ke-21 ini,” tertulis di kalimat lainnya dalam iklan tersebut.

Namun tuduhan tersebut tak menggoyahkan Lorde. Lorde, yang seharusnya menggelar konser di Tel Aviv, Israel, pada Juni 2018, tetap pada sikapnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved