Serambi Ummah

Inilah Resep Meredam Perpecahan di Kalangan Umat Islam ala MUI Kalsel

Menjamur komunitas keislaman, organisasi dakwah, kajian dan bertambah da’i, secara kuantitas memang patut disyukuri.

Inilah Resep Meredam Perpecahan di Kalangan Umat Islam ala MUI Kalsel
Halaman A Serambi Ummah Edisi Jumat (19/1/2018) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Menjamur komunitas keislaman, organisasi dakwah, kajian dan bertambah da’i, secara kuantitas memang patut disyukuri.

Namun, di sisi lain timbul keprihatinan. Tidak jarang, komunitas dan organisasi dakwah saling menyerang, menyesatkan, bahkan membid’ahkan, dikarenakan ada perbedaan pendapat dalam beberapa masalah.

Melihat kondisi tersebut, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Selatan, Prof HA Hafiz Anshary Az mengatakan saat ini MUI melakukan pembinaan dan pengembangan Islam Wasathiyah, yaitu sistem Islam pertengahan.

"Jadi sistem ini tidak terlalu moderat dan tidak terlalu ekstrem. Kami mengambil jalur tengah yang berimbang, itu yang sekarang sedang kami kembangkan melalui struktur organisasi dari pusat hingga daerah," ucap Hafiz Anshary.

Baca: Kisah Mengharukan, Dua Bocah yang Peluk Batu Nisan dan Tidur di Makam Ayahnya, Jadi Viral

Ia mengatakan adanya sistem tersebut, agar orang-orang yang terlibat di dalam hal tersebut diharapkan menyuarakan Islam wasathiyah kepada masyarakat muslim. Selain itu, memberitahukan sistem itulah yang tepat untuk Indonesia.

Menurut dia, Islam wasathiyah tidak menyalahkan orang lain, tidak menjatuhkan orang lain dan tidak memarjinalisasikan orang. Semua sebagai saudara, saling menghargai.

"Sama-sama kami bergerak, walaupun kami berbeda. Jadi, artinya toleransi intern umat beragama Islam dikembangkan melalui Islam wasathiyah," jelasnya.

Selain itu, Hafiz Ansahry menjelaskan, sejauh ini pihaknya telah melakukan sosialisasi soal sistem tersebut. Pada setiap kesempatan dan di sejumlah tempat, selalu diberikan materi tentang Islam washatiyah.

Baca: Ajaib, Makam Diyakini Buyut Datu Kelampayan Ini Dikenal Warga Suka Berpindah Tempat

Dari setiap pertemuan, MUI selalu membicarakan tema-tema Islam yang mempertebal dan memperkuat ukhuwah islamiyah. Artinya, MUI memang menyadari perbedaan itu ada dan nyata di masyarakat.

Tentu dari kesadaran itu, menurut Hafiz yang juga dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari itu, tinggal bagaimana MUI mengatasi perbedaan dan menjadi sebuah kekuatan bukan sebagai kelemahan, apalagi kehancuran.

“Oleh karena itu, melalui seminar dan forum-forum pertemuan, selalu membicarakan tentang sistem keseimbangan ini, tegasnya.

Perihal pengaplikasian di lapangan, ia menjelaskan tinggal bagaimana masing-masing himpunan atau komunitas tadi bisa menghargai dan menghormati tanpa saling menjatuhkan. Selain itu, anggota ormas bisa menerima pendapat dari ormas lainnya.

Baca: Ibu Sadis! Bunuh Dua Anaknya Sendiri YouTuber Cilik Lalu Bunuh Diri Terjun dari Jembatan

Penyebaran sistem Islam wasathiyah, juga dilakukan melalui sejumlah media. Dari media sosial hingga media cetak, tabloid yang diterbitkan oleh MUI. Dalam majalah itu, disampaikan tentang pemahaman Islam pertengahan ini.

Meski begitu, tidak bisa dipungkiri saat ini, terpantau ada saja ormas yang sangat agresif dalam tanda kutip mengarah ke negatif. Ormas tersebut mempermasalahkan pendapat orang lain, bahkan memisahkan orang. Juga melecehkan orang lain, seolah merekalah yang paling benar.

"Kami tentu tidak bisa mencegah, karena bukan kewenangan. Mengimbau tentu, agar menyampaikan pendapat, pemikiran, paham tapi tidak melecehkan, apalagi mencaci-maki. Bahkan membid'ahkan orang lain," terangnya. (ell)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved