Order Fiktif Taksi Online

Begini Modus Driver Online Cari Untung Pakai Aplikasi “Tuyul”, Hanya Ongkang Kaki di Rumah

Modus driver online untuk meraih untung tanpa harus bekerja mengantar penumpang ternyata menggunakan aplikasi “tuyul”.

Editor: Royan Naimi
(Kompas.com/Akhdi Martin Pratama)
Para tersangka dan barang bukti kasus order fiktif taksi online di Mapolda Metro Jaya, Rabu (31/1/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Modus driver online untuk meraih untung tanpa harus bekerja mengantar penumpang ternyata menggunakan aplikasi “tuyul”.

Aplikasi ini bisa membuat order fiktif yang tercat seperti order sesungguhnya.

Kasubdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Antonius Agus Rahmanto mengatakan, para pengguna aplikasi pembuat order fiktif ojek maupun taksi online atau kerap disebut "tuyul" memiliki perkumpulan.

"Saya tidak dapat mengatakan ini jaringan yang terorganisir. Karena mereka tidak punya susunan organisasi. Tapi mereka berkomunitas," ujar Agus saat ditemui di kantornya, Kamis (1/2/2018).

Hal ini dibenarkan seorang tahanan kasus order fiktif ojek online berinisial FA.

Baca: Driver Taksi Online ini Pakai “ Tuyul” untuk Raih Untung Rp 10 Juta, Tapi Akhirnya Terciduk Polisi

Ia bahkan mengaku menyewa sebuah rumah kontrakan di Jalan Aries Utama, Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat.

"Kami sewa kontrakan 6 bulan, biayanya Rp 20 juta. Kami bayarnya iuran saja, seikhlasnya. Kami ada 10 orang di sana," ujar FA saat ditemui.

Menurut FA, tak ada yang mengkoordinir hingga terbentuk perkumpulan ini.

Menurutnya, perkumpulan para mitra ojek online ini terbentuk begitu saja atas dasar kesamaan nasib.

"Di sana kami iuran seiklasnya untuk beli HP (ponsel) juga. Ada 170 ponsel yang kami pakai bergantian biar pelanggannya tidak terkesan selalu sama. Kami kumpul-kumpul aja di sana (kontrakan)," tuturnya.

Baca: Bocah 7 Tahun Ingin Nikahi Pangeran yang Lebih Tua darinya, 14 Tahun Kemudian Ini yang Terjadi

Tak hanya untuk menyewa rumah dan membeli ponsel, sejumlah mitra ojek online pun mengumpulkan iuran untuk biaya oprek ponsel agar dapat digunakan untuk membuat order fiktif online.

"Sekali oprek kan Rp 100.000. Satu HP enggak pasti sebulan sekali dioprek, kami iuran sukarela," ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved