Berita Hulu Sungai Tengah

Miris! Namanya Saja MTsN, Tapi Sekolah di HST Ini Tak Punya Musala, Akhirnya Siswa Salat Disini

Tempat ibadah tersebut sangat dibutuhkan para siswa, mengingat tiap hari mereka harus melaksanakan salat zuhur

Miris! Namanya Saja MTsN, Tapi Sekolah di HST Ini Tak Punya Musala, Akhirnya Siswa Salat Disini
Istimewa
SIswa MTsN 3 Filial Belanti, Desa Binjai Pirua, Kecamatan Labuanamas Utara, HST yang terpaksa melakukan salat di ruang kelas mereka. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Para guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Hulu Sungai Tengah (HST) Filial Belanti di Desa Binjai Pirua Kecamatan Labuanamas Utara, kebingungan merealisasikan pembangunan Musala sekolah.

Tempat ibadah tersebut sangat dibutuhkan para siswa, mengingat tiap hari mereka harus melaksanakan salat zuhur dan salat sunat Dhuha berjamaah, selain kegiatan rutin keagamaan lainnya.

Selama ini, kegiatan salat Dhuha terpaksa dilakukan di ruang kelas. Sedangkan salat zuhur ke Langgar milik masyarakat, dengan jarak cukup jauh dari sekolah, yaitu sekitar 250 meter melewati jalan raya atau jalan nasional.

Baca: Heboh! Beredar Foto Tiket Pesawat Kepulangan Rizieq Shihab, Novel: Iya Benar Tiket Rizieq

“Uttuk salat dhuha dilakukan dalam ruangan kelas. Sedangkan salat zuhur di Langgar milik masyarakat. Terpaksa dilakukan bergiliran juga, karena tak cukup menampung siswa kami yang jumlahnya 123 orang,” kata Kepsek MTsN 3 HST, Anwar Rahzaidi Jumat (16/2/2018).

SIswa MTsN 3 Filial Belanti, Desa Binjai Pirua, Kecamatan Labuanamas Utara, HST yang terpaksa melakukan salat di ruang kelas mereka.
SIswa MTsN 3 Filial Belanti, Desa Binjai Pirua, Kecamatan Labuanamas Utara, HST yang terpaksa melakukan salat di ruang kelas mereka. (Istimewa)

Dijelaskan, MTsN 3 Filial Belanti itu dibangun pada 2009, merupakan kelas jauh sekolah induk yang berlokasi di Desa Walangku, Kecamatan LAU.

Baca: Jadwal Siaran Langsung Indosiar PSMS Vs Sriwijaya FC - Djanur Berharap Keberuntungan SUGBK

Sekolah tersebut, kata Anwar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat yang menginginkan ada sekolah agama di Desa mereka, Binjai Pirua.

Madrasah itu pun, dibangun oleh atas partisipasi masyarakat dibantu program kemitraan Australia -Indonesia 2009 silam. Anwar mengatakan, MTsN 3 Filial tersebut dikelola Wakil Kepala Sekolah, Khairullah Mahdi, yang bertugas di sana.

Pada 2017, pernah ada bantuan dana hibah dari Pemkab HST sebesar Rp15 juta. Namun, dana tersebut hanya mampu untuk membangun pondasinya. Itupun belum memenuhi luas yang ditargetkan, yaitu minimal 10x15 meter persegi. Pembangunan akhirnya terhenti karena dananya sudah habis.

Baca: Pembalakan Liar Menggila! Bansaw Marak di Sepanjang Sungai Kapuas, Milirkan Kayu Lewat Jalur Tikus

Namun, panitia masih berusaha mengumpulkan dana dari berbagai sumbangan, baik guru maupun masyarakat dan orang tua siswa. “Tapi hanya terkumpul Rp 2 juta lebih. Kami ingin sekali menyelesaikan pembangunannya, karena sangat dibutuhkan untuk kegiatan keagamaan siswa,”kata Anwar.

Diapun berharap, ada donator atau dermawan di HST maupun daerah lainya di Kalsel atau luar Kalsel yang bisa membantu memenuhi kebutuhan sekolah tersebut.

Bahkan, pihak sekolah akan menjadikan nama donator atau dermawan yang membantu menjadi nama musalanya, sebagai penghargaan dan ungkapan syukur dan terimakasih.

“In Sya Allah selain namanya akan selalu dikenang, pahala jariahnya terus mengalir karena terus digunakan siswa untuk salat dan pengajian di sekolah,”katanya. Disebutkan, tiap tahun, siswa-siswi di sekolah filial tersebut selalu bertambah dan prestasi sekolah juga meningkat. Namun, ruang kelas yang tersedia hanya lima lokal, terdiri kelas VII dan VIII 7 masing-masing dua ruangan, serta kelas IX hanya satu ruangan.

Baca: Ternyata Begini Peruntungan Ronaldo, Messi, dan Neymar berdasar Shio 2018

Kekurangan ruangan di sekolah itu, membuat pihak sekolah terpaksa menggabung ruang guru, Tata Usaha, UKS dan Perpustakaan jadi satu ruangan.

“Kami sangat berterimakasih jika ada donator yang membantu masalah ini. Sebab berharap anggaran Kemenag tidak ada. Dulu, ada program bantuan DInas Pendidikan Provinsi, namun setelah SMA/SMK diambil alih provinsi, program bantuan untuk madrasah tidak ada lagi,” kata Anwar.

Selain untuk kebutuhan salat, Musala juga diperlukan untuk kegiatan mingguan, yaitu pengkajian fikih serta program Jumat Taqwa dan tahlilan yang selama ini dilakukan di halaman sekolah.

Mengenai besarnya dana yang dibutuhkan untuk membangun musala tersebut, jelas Anwar diperkirakan menghabiskan dana lebih Rp 200 juta. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved