Berita Banjarmasin

PPDI Minta Dilibatkan Pada Pembangunan Sekolah Inklusi, Ini Alasannya

Dihubungi terpisah, Slamet Ketua Perkumpulan Penyandang Cacat Indonesia (PPDI) Kota Banjarmasin, menyambut gembira rencana

Editor: Eka Dinayanti
BPost Cetak
bpost cetak 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Dihubungi terpisah, Slamet Ketua Perkumpulan Penyandang Cacat Indonesia (PPDI) Kota Banjarmasin, menyambut gembira rencana dinas pendidikan mau membanguh sekolah khusus inklusi di lahan eks bangunan SD N Kebun Bunga 8 tersebut.

Namun Slamet mengingatkan agar rencana pembangunan sekolah inklusi tersebut itu melihatkan pemikiran PPDI Kota Banjarmasin, sehingga dari sisi aksepbilitas atau bangunan untuk kaum difable itu sesuai.

Menurut Slamet, rencana pembangunan sekolah khusus inklusi tersebut sangat positif.

Apalagi anggota PPDI banyak ditolak masuk ke sekolah inklusi di Banjarmasin.

Baca: Wow Pria Ini Mengaku Datang Dari Tahun 5000, Begini Kehidupan Manusia di Masa Depan

Baca: Satu Lagi Raja Tambang di Kalimantan Bikin Kejutan, H Isam Umrahkan 250 Gurunya di SMP

Prakteknya di lapangan tak semua sekolah jenjang SD inklusi itu bersedia menerima penyandang cacat.

Dijelaskan Slamet, penolakan dari sejumlah sekolah inklusi tersebut, sambungnya, karena kategori kaum difablenya terlalu berat dan sekolah inklusi itu tidak ada yang membantu.

Selama ini, sejumlah sekolah inklusi yang didatangi pengurus PPDI itu sudah menerima kaum difable dengan skala ringan.

Baca: 5 Fakta Hujan Sawer Raja Tambang Binuang, Bocah SD Nyawer Lesty Jutaan Hingga Harley untuk Rhoma

Baca: Mengagetkan! Ini Harga Harley Davidson Hasil Saweran Rhoma Irama dari Raja Tambang H Ciut

"Saat kami ke sekolah inklusi itu mereka itu sudah menerima kaum difable. Entah kenapa anggota kami ditolak masuk ke sekolah tersebut," katanya.

Dijelaskannya, saat sekolah inklusi itu sudah menerima kaum difable, biasanya sekolah akan mendatangkan psikolog untuk menentukan kategori penyandang cacatnya, seperti tuna grahita atau autis.

Ditambahknnya, pengurus PPDI Kota Banjarmasin berharap ke depan semua sekolah SD di kota ini bisa menjadi sekolah inklusi sehingga para penyandang cacat bisa tertampung di wilayah masing-masing.

"Kita juga melihat falitas guru pedamping di sekolah inklusi itu masih minim," katanya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved