Kegelisahan Ulama Kegelisahan Bangsa

JANGAN dianggap sepele. Meski hoax atau berita bohong, pemerintah dalam hal ini Polri dan TNI harus serius menyikapi kabar atau berita

Kegelisahan Ulama Kegelisahan Bangsa
BPost Cetak
Ilustrasi 

JANGAN dianggap sepele. Meski hoax atau berita bohong, pemerintah dalam hal ini Polri dan TNI harus serius menyikapi kabar atau berita yang beredar di media sosial bahwa tokoh agama (ulama atau ustadz) diserang dan dianiaya.

Meski tidak benar, secara tidak langsung hoax itu sudah ‘menyerang’ ulama. Hoax sudah menimbulkan kekhawatiran dan rasa takut di kalangan ulama. Hoax sudah mengurangi gerak ulama dalam menjalankan fungsi dan perannya di tengah-tengah masyarakat.

Setidaknya hal di atas tersebut terjadi di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan. Sejumlah ulama di kabupaten tersebut menanyakan kebenaran berita di media soasial bahwa di Kecamatan Halong ada orang tak dikenal yang menanyakan penuh selidik kepada seorang santri yang pulang dari pengajian, tentang keberadaan pesantren dan ulama di wilayah Balangan. Pertanyaan itu dilontarkan para ulama saat Silaturahmi dan Dialog Plt Bupati HST dengan Ulama dan Habaib se-HST di Ponpes Nurul Muhibbin, Senin (19/2) lalu.

Tak hanya menanyakan, ulama di HST juga berharap pemerintah dan penegak hukum menambah jam patroli, khususnya tengah malam dan subuh. Menyosialisasikan melalui spanduk imbauan agar jika ada orang mencurigakan, secepatnya menghubungi kepolisian. Di spanduk itu juga dicantumkan nomor kontak polisi yang mudah dihubungi dalam 24 jam.

Pertanyaan dan harapan ulama itu bukan tanpa dasar. Karena ada kejadian yang melatar belakanginya, yakni kasus kekerasan yang baru saja dialami KH Hakam Mubarok, pimpinan Pondok Pesantren Karagasem Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Kasus serupa juga terjadi pada Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hiadayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, KM Emon Umar Basyri, dan Ustadz Prawoto, Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis).

Kembali kepada ulama HST, pemerintah harus menuntas kasus hoax ini. Caranya tidak cukup dengan mengatakan berita yang beredar di media sosial itu tidak benar, tapi pemerintah juga harus memberikan perlindungan kepada ulama.

Ulama harus diberikan perlindungan spesial. Ini dikarenakan keberadaan dan perannya di republik ini sangat besar. Merekalah yang memberikan nasihat bila ada masyarakat punya masalah dalam kehidupannya. Merekalah yang mengayomi atau melindungi jika masyarakat merasa ketakutan dalam menjalani kehidupannya. Merekalah yang motivasi dan mengarahkan masyarakat untuk membangun bangsa.

Dengan kata lain, ulama merupakan jantung sosial dalam masyarakat. Jika jantung sosial dalam masyarakat terganggu bahkan terancam, maka peran pembimbingan dan membina masyarakat juga tidak akan berjalan. Bila jantung sosial ini berhenti berdetak, maka akan merugikan stabilitas bangsa. Kelanjutannya, bangsa pun akan hancur. Maka tidak salah kalau dikatakan, kegelisahan ulama adalah kegelisahan bangsa. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved