Berita Tanahlaut

Aparatur di Desa Kebun Raya, Kintap Empat Tahun ini Antarjemput Siswa SMPN 2 Kintap

Bambang Sutra dan Tikim adalah Kepala Dusun di Pemerintahan Desa Kebun Raya, Kecamatan Kintap.

Aparatur di Desa Kebun Raya, Kintap Empat Tahun ini Antarjemput Siswa SMPN 2 Kintap
Banjarmasinpost.co.id /Mukhtar Wahid
Ramsi, siswa SMPN 2 Kintap bersama temannya duduk menunggu temannya yang belum keluar kelas. Ia mengaku dari Desa Bukit Mulia, Kecamatan Kintap setiap hari dijemput dan diantarkan mobil pikap, Selasa (27/2/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Bambang Sutra dan Tikim adalah Kepala Dusun di Pemerintahan Desa Kebun Raya, Kecamatan Kintap. Keduanya sudah melakoni usaha sampingan sebagai sopir angkutan siswa SMPN 2 Kintap.

Selasa (27/2/2018), sekitar pukul 13.00 Wita, keduanya berdiri di samping mobil mini pikap yang modifkasi diberi tutup dan tempat duduk.

"Saya sudah empat tahun ini mengantar dan menjemput siswa dari Desa Kebun Raya yang sekolah ke SMPN 2 Kintap," ujar Tikim.

Baca: LIVE STREAMING Arema FC Vs Mitra Kukar Malam Ini 19.30 WIB - Link Live Streaming MNC TV di Sini

Tikim mengaku kebijakan manajemen di SMPN 2 Kintap yang tidak membolehkan siswanya membawa kendaraan roda dua karena memang usianya belum layak berkendara.

Menurutnya, hasil kesepakatan di Pemerintahan Desa Kebun Raya sehingga anak siswa diantar dan dijemput menuju sekolahnya.

Selain itu, kebijakan dari kepolisian sektor Kintap yang membolehkan mobil pikap pribadi ini sebagai angkutan pelajar.

"Makanya plat nomornya polisinya warna hitam. Ini kebijakan agar dapat membawa siswa berangkat dan pulang dari sekolah" katanya.

Ternyata tidak hanya siswa dari Desa Kebun Raya. Ada juga siswa dari Desa Bukit Mulia, Desa Kintap Kecil, Desa Sebamban Baru dan Desa Sungai Cuka Kecamatan Kintap.

Baca: Hasil Akhir Pusamania Borneo FC Vs PSIS Semarang Hari Ini - Skor 2-1, Mahesa Jenar Tersingkir!

Ramsi, siswa SMPN 2 Kintap mengaku dari Desa Bukit Mulia, Kecamatan Kintap. Dirinya tak berani berkendara karena larangan pihak sekolahnya. Ia mengaku setiap hari dijemput dan diantarkan mobil pikap dan merasa nyaman dan aman.

Itu karena sekolahnya tak mengizinkan siswa membawa sepeda motor sendiri dari rumahnya di Desa Bukit Mulia atau berjarak sekitar lima kilometer melintas di jalan nasional.

"Setiap bulan, orang tua kami membayar Rp 150 ribu untuk biaya ongkos antar jemput," kata teman Ramsi menambahkan.

Kondisi ini berbeda dengan perilaku siswa di MTs Tanahlaut di kawasan Jalan Datu Daim, Kelurahan Angsau, Justru siswanya belum cukup syarat, tetap nekat berkendara roda dua. Cuma roda dua itu diparkir di setiap halaman warga tak jauh dari sekolahnya. (Banjarmasinpost.co.id /Mukhtar Wahid)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved