Berita Tanahlaut

Ini Penjelasan Kabid Pelayanan RSUD Hadji Boejasin Pelaihari Soal Pasien Sakit Usai Berenang

Saat ini sedang musim pancaroba sehingga banyak anak anak dan remaja dewasa mengidap penyakit common cold.

Ini Penjelasan Kabid Pelayanan RSUD Hadji Boejasin Pelaihari Soal Pasien Sakit Usai Berenang
banjamasinpost.co.id/mukhtar wahid
Kabid Pelayanan RSUD Hadji Boejasin Pelaihari, Syamsul Bahri 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Adanya kabar tentang pasien yang menderita penyakit tertentu terkait pascakegiatan renang di kolam renang Pelaihari, belum dapat dipastikan kebenarannya.

DIkatakan Kabid Pelayanan RSUD Hadji Boejasin Pelaihari, Syamsul Bahri, hal tersebut perlu dilakukan penelitian lebih lanjut akan kualitas air dan dampak yang ditimbulkan.

"Dari beberapa pasien yang berobat ke praktik dokter,rawat jalan dan rawat inap, memang ada keluhan sakit sehabis berenang di kolam ranang Tirta Kenanga Pelaihari ada yang menderita keluhan demam tinggi atau mata merah beberapa hari kemudian," katanya.

Syamsul Bahri sudah meminta penjelasan dokter spesialis anak pada RSUD H. Boejasin, dr. I Putu Ardhika, MSc, Sp A.

Baca: Ini Saran Dinas Kesehatan Kabupaten Tanahlaut ke Pengelola Kolam Renang Tirta Kenanga

Isi penjelasan itu bahwa saat ini sedang musim pancaroba sehingga banyak anak anak dan remaja dewasa mengidap penyakit common cold.

Dan, kebetulan berobat sakitnya pas habis berenang sehingga dihubung-hubungkan dengan mandi di kolam renang Tirta Kenanga tersebut.

Menurut Syamsul Bahri, keluhan pasien korelasinya perlu ada pembuktiaan dari pemeriksaan air di kolam renang Tirta Kenanga tersebut oleh pihak yang berkompeten.

"Kita semua sudah mengetahui bahwa air kolam renang agar tetap bersih dan tidak mengandung kuman mesti dicampur dengan klorin dengan kadar tertentu. Pada beberapa individu (tidak semuanya) ada yang sensitif terhadap klorin," katanya.

Air merupakan salah satu media penularan penyakit. Namun, apakah air di kolam renang Tirta Kenanga Pelaihari itu terkontaminasi atau mengandung zat yang bisa mempengaruhi kesehatan, jelas Syamsul Bahri harus dibuktikan terlebih dahulu.(*)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved