Berita Hulu Sungai Tengah

Waduh! Ada Pungutan Ilegal di Wisata Air Panas HST, Pengunjung Pun Tak Berdaya

“Dulu pernah mau pemebasan lahan, untuk rencana pengembangan. Tapi pemiliknya memasang harga terlalu tinggi"

Waduh! Ada Pungutan Ilegal di Wisata Air Panas HST, Pengunjung Pun Tak Berdaya
Hanani
Pengunjung di objek wisata air panas di Desa Murung B Kecamatan Hantakan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah mengakui kesulitan mengembangkan objek wisata air panas di Desa Murung B Kecamatan Hantakan.

Masalahnya, jalan menuju ke objek wisat tersebut masih milik masyarakat. Saat lahannya hendak dibeli, pemiliknya memasang tariff tinggi. Sedangkan anggaran pemeintah hanya untuk harga yang wajar.

Baca: PRT Ini Berpakaian Minim Suka Pacaran, Lalu Dipecat, Ibu Kos Cantik Ini Pun Meregang Nyawa

“Dulu pernah mau pemebasan lahan, untuk rencana pengembangan. Tapi pemiliknya memasang harga terlalu tinggi. Ada juga yang keberatan menjual lahannya, karena tahu jika dikembangkan bakal lebih ramai di kunjungi. Akhirnya, pembebasan lahan pun batal,” kata Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Pemuda dan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata, HST Fachrurrazi, kepada BPost Online.

Beberapa kali pendekatan pun, jelas Fachrurrazi sudah dilakukan. Beberapa waktu lalu, ada pembicaraan dengan pemilik lahan.

Baca: Raja Pencuri Ini Sampai Meneteskan Air Mata Dengar Kata-kata Polisi Ini, Saya Tobat!

Namun mereka minta kerjasama dengan cara pemkab memungut tiket di pintu gerbang masuk objek wisata, sedangkan warga memungun di jalan menuju objek wisata.

“Tapi kami tetap tidak membangun apapun, selama tidak ada pembebasan lahan. Pembangunan bisa dilakukan selama pemilik lahan mau menjual lahan mereka ke Pemkab,” katanya.

Pengunjung di objek wisata air panas di Desa Murung B Kecamatan Hantakan.
Pengunjung di objek wisata air panas di Desa Murung B Kecamatan Hantakan. (Hanani)

Mengenai pungutan oleh mereka yang mengaku pemilik lahan di jalan menuju kolam pemandian air panas, Fachrurrazi menegaskan, pungutan tersebut tak resmi alias illegal.

Meski demikian, tiap pengunjung yang dipungut, tak berdaya untuk protes, karena mereka mengaku pemilik lahan.

Halaman
12
Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved