Jendela Dunia

'Kisah di Balik Tangan yang Berdoa'

Meskipun kondisi yang jauh dari harapan tersebut, dua dari anak tertuanya bermimpi.

'Kisah di Balik Tangan yang Berdoa'
net
ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kembali ke abad kelima belas yang silam. Di sebuah desa kecil dekat Nuremberg, tinggallah sebuah keluarga dengan delapan belas anak-anak. Delapan belas!

Agar tetap tersedia makanan di atas meja untuk mereka, ayah dan kepala rumah tangga, yang berprofesi sebagai tukang emas, bekerja hampir delapan belas jam sehari di pasar emas dan bekerja di tetangganya.

Meskipun kondisi yang jauh dari harapan tersebut, dua dari anak tertuanya bermimpi. Mereka berdua ingin mengejar bakat mereka dalam bidang seni.

Baca: Kisah Pilu Najwa Shihab Kehilangan Putri Kecilnya Nimiya Bikin Warganet Ikut Rasakan Duka

Tetapi mereka tahu bahwa ayah mereka tidak akan pernah mampu secara finansial untuk mengirim salah satu dari mereka untuk belajar di sekolah.

Setelah diskusi panjang di malam hari di tempat tidur yang penuh sesak, kedua anak laki-laki itu akhirnya saling bersepakat.

Mereka akan melemparkan sebuah koin. Yang kalah akan bekerja di pertambangan dekat situ, untuk mendukung biaya saudaranya belajar di sekolah.

Baca: Cari Mangsa Lelaki Hidung Belang, Isah Sengaja Tampil Seksi Gunakan Hotpants

Ketika saudaranya yang memenangkan lemparan menyelesaikan belajarnya selama empat tahun, ia akan membantu saudara lainnya bersekolah, baik dengan penjualan karya seninya, atau jika perlu, bekerja di pertambangan.

Mereka melempar koin setiap hari Minggu pagi. Albrecht Durer memenangkan lemparan koin dan pergi ke Nuremberg. Sementara saudaranya, Albert, pergi ke pertambangan yang berbahaya.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Sumber: Intisari Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved