Berita Tanahlaut

Orangtua Cantika Pasien Kanker Darah Temui Ketua DPRD Tanahlaut, Ini Harapannya

Dalam pertemuan itu, Suparyono mengungkapkan penderitaan anaknya bernama Cantika (13) yang terbaring lemah

Orangtua Cantika Pasien Kanker Darah Temui Ketua DPRD Tanahlaut, Ini Harapannya
mukhtar wahid
Suparyono, orangtua pasien kanker darah asal Desa Batumulya, mendatangi Ketua DPRD Tanahlaut, Heriyanto, Selasa (31/7/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Suparyono, orangtua pasien kanker darah asal Desa Batumulya, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanahlaut, mendatangi Ketua DPRD Tanahlaut, Heriyanto, Selasa (31/7/2018).

Dalam pertemuan itu, Suparyono mengungkapkan penderitaan anaknya bernama Cantika (13) yang terbaring lemah melawan penyakit kanker darah selama tiga pekan ini.

Suparyono mendapatkan motivasi dan semangat dari Ketua DPRD Tanahlaut, Heriyanto agar tabah dan bertanggung jawab atas musibah yang menimpa putri kandungnya.

Baca: Ratusan Siswa Desa Mandikapau Datangi Lokasi Ini, Kalsel Geber Imunisasi Campak dan Rubella

Heriyanto berharap Suparyono tegar karena dilihat dari fisik lebih muda darinya dan sama-sama warga perantau dari Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah.

"Saya ini orang Semarang juga. Saya pensiunan tentara. Saya prihatin dengan kondisi sampean. Tapi kita jangan cengeng," katanya.

Baca: Warga Pulau Sembilan Gelisah, Wakil Rakyat Kotabaru Bakal Datangi PT Pelni di Jakarta

Heriyanto membenarkan tidak sedikit warga Tanahlaut yang melakukan cuci darah dan kemoterapi di daerah tetangga. Itu karena tidak tersedia peralatan medis di rumah sakit daerah Kabupaten Tanahlaut.

"Saya melakukan operasi juga diluar daerah karena tidak ada peralatan medis di rumah sakit daerah. Pemerintah tidak dapat dipersalahkan karena sudah mengakomodasi melalui BPJS," katanya.

Suparyono mengaku tidak lagi menggalang dana lingkungan Pasar Tapandang Berseri Pelaihari dan di perempatan lampu lalulintas lagi.

Hasil dari sumbangan warga yang melintas di jalan diantaranya cukup untuk kebutuhan melayani keperluan selama menunggui anaknya di RSUD Idaman Kota Banjarbaru.

"Saya tiga pekan ini bolak-balik mengganggu kesehatan saya. Saya istirahat dulu di Desa Batumulya, Kecamatan Panyipatan," katanya.

Suparyono adalah honorer penjaga sekolah di SMAN Panyipatan sejak 2008 lalu. Gaji sebagai honorer penjaga sekolah dibayar setiap tiga bulan sekali.

Selama tiga pekan ini, Suparyono dan istrinya tidak lagi berdagang makanan dan minuman di SMAN Panyipatan. Itu karena kesehatan putri harus melakukan kemoterapi untuk mempertahankan hidupnya.

Usai Suparyono membersihkan lingkungan SMAN Panyipatan, pagi hari, ia kembali sore harinya ke Kota Banjarbaru lagi menebus obat dan donor darah yang tidak dijamin BPJS. (Banjarmasinpost.co.id/ Mukhtar Wahid)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved