Berita Banjarmasin

Adanya Sapi Batuk Justru Diwaspadai Pemko Banjarmasin

Pedagang sapi di Rumah Pemotongah Hewan (RPH) Basirih di Jalan Tembus Mantuil, Sumardi, mengaku selalu rutin memeriksakan sapinya.

Adanya Sapi Batuk Justru Diwaspadai Pemko Banjarmasin
banjarmasin post group/ eka pertiwi
Pemeriksaan di Mantuil 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – Pedagang sapi di Rumah Pemotongah Hewan (RPH) Basirih di Jalan Tembus Mantuil, Sumardi, mengaku selalu rutin memeriksakan sapinya.

Jika layak kurban ia akan menjualnya. Jika tidak sapi yang bermasalah akan diobati. “Kalau tidak bisa diobati akan kami diretur dan dikembalikan ke Balai Karantina yang ada di Madura.

“Sapi di sini rutin diperiksa, baik periksa langsung maupun melaui laboratorium memeriksa darah,” ujarnya.

Baca: Kader NU Kalsel Mayoritas Dukung Jokowi-Makruf Amin di Pilpres 2019

Medik Veteriner Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Banjarmasin , Anang Wijatmiko, mengatakan semua sapi menurutnya harus diperiksa apalagi ada penyakit menular seperti antraks yang menular kepada manusia. Dampaknya, jelas kematian.

Tak hanya antraks, yang paling bermasalah juga penyakit mulut dan kuku. Penyakit pembusukan ini, disebakan oleh virus PMK.

“Ini menular kepada manusia. Makanya itu yang kami periksa. Sejauh ini masih tidak ditemukan. Yang ada hanya 10 sapi yang kelelahan. Kalau lelah ya diobati, kalau tidak bisa diobati ya hanya untuk sapi potong tidak untuk kurban,” jelasnya saat pemeriksaan di RPH Basirih Jalan Tembus Mantuil.

Baca: Water Meter Banyak Hilang di Banjarbaru, PDAM Intan Banjar : 10 Unit Dicuri

Dari 860 sapi yang diperiksa di RPH Basirih lima persen di antaranya sudah diperiksa darahnya secara acak untuk memastikan penyakit antraks. Selain penyakit antraks, sapi juga memungkinkan terkena TBC.

“Kalau ada sapi yang batuk itu yang perlu diwaspadai. Penyakit kuku dan mulut itu, kalau ada pembusukan di area mulut dan kukunya. Sapi gila juga diperiksa,” katanya.

Dikatakannya Banjarmasin menyediakan 2.800 sapi yang tersebar di RPH Basirih dan di pemampungan di Jalan RK Ilir. Selain itu yang diperiksa kemarin adalah kondisi kuping, mata, dan kaki termasuk testis ikut diperiksa.

Baca: Densus 88 dan Polda Kalteng Dalami Jaringan Terduga Teroris di Palangkaraya

Menurutnya, pemeriksaan mencakup apakah ada cacat bawaan atau tidak. Dijelaskannya, cacat bawaan seperti cacat kuping, mata, kaki, dan testis tidak boleh untuk digunakan sebagai hewan kurban.

“Semua sapi cacat bawaan tidak boleh jadi hewan kurban. Beda untuk keperluan potong sehari-hari, yang cacat masih diperbolehkan,” katanya. Selain itu permerikasaan juga dilakukan agar mengetahui kondisi fisik sapi. Di mana juga diperiksa pada bagian kulit sapi yang terluka.  

Baca: Terduga Teroris Palangkaraya Diketahui Rencanakan Penyerangan Polisi, Ini Penjelasannya

Menurut Anang, jika ada luka besar kemungkinan sapi akan mengalami inveksi. "Inveksi ini berbahaya untuk dikonsumsi mansusia," bebernya. 

Hingga usai pemeriksaan tidak ditemukan luka dan penyakit menular pada sapi. Mengenai pemeriksaan post mortem akan dilakukan setelah hewan disembelih. 

Menurut Anang Wijatmiko, jika ditemukan seperti cacing hati dan lainnya maka akan diambil petugas Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Banjarmasin, karena tidak boleh untuk dikonsumsi manusia. (banjarmasinpost.co.id/Eka Pertiwi)

Penulis: Eka Pertiwi
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved