Derita Petani Karet

Penghasilan Kebun Karet Tak Mencukupi, Demi Pendidikan Anaknya, Kadir Rela Melakukan Pekerjaan ini

Lain lagi pengakuan Abdul Kadir (46), warga Sragen, Tapin Selatan, meskipun penghasilan dari kebun karetnya terus menyusut

Penghasilan Kebun Karet Tak Mencukupi, Demi Pendidikan Anaknya, Kadir Rela Melakukan Pekerjaan ini
BPost Cetak
bpost

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Lain lagi pengakuan Abdul Kadir (46), warga Sragen, Tapin Selatan, meskipun penghasilan dari kebun karetnya terus menyusut, namun dia tetap bisa menyekolahkan anaknya, bahkan satu orang hampir selesai kuliah.

Kadir terpaksa nyambi jadi buruh bangunan lantaran hasil kebun karet tidak lagi mencukupi membiayai keperluan rumah tangga.

“Harga karet kini per kilogram sekitar Rp 6.000 ini terlampau murah sehingga petani merugi,” tuturnya.

Baca: Penjelasan Caren Delano, Fashion Stylist Agnez Mo Soal Kostum Panggung Agnez yang Dikirik

Disebutkan dia, harga idel karert Rp 10.000 per kilogram, minimal Rp 8.000 per kilogram, sehingga petani karet bisa bernafas lega.

Kadir ditemui di lokasi kebun karetnya, Selasa (21/8) pagi mengaku penghasilan dari kebun karet per hari sekitar Rp 40 sampai 50 ribu per hari.

Baca: Viral! Aksi Brutal Pesilat Malaysia Setelah Dikalahkan Atlet Silat Singapura di Asian Games 2018

Jumlah itu, sebut dia, tidak cukup memenuhi keperluan rumah tangga.

Itu sebabnya, sehabis dari kebun dia nyambi jadi buruh bangunan.

"Saya berharap kepada pemerintah supaya harga karet ditinggikan, dan kebutuhan dasar masyarakat jangan dinaikkan," harapnya.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved