Derita Petani Karet

Petani Karet Mengeluh dan Pasrah, Pemerintah Tak Pernah Memberikan Pembinaan

Namun, menurut dia, murahnya harga karet membuat tidak ada penghasilan tambahan untuk keluarganya.

Petani Karet Mengeluh dan Pasrah, Pemerintah Tak Pernah Memberikan Pembinaan
BPost Cetak
bpost

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Selain menyadap, Sugeng juga bekerja sebagai petani sawah.

Karena menyadap dia lakukan hanya satu jam di waktu pagi.

Sehingga dia masih punya waktu bertanam padi.

Namun, menurut dia, murahnya harga karet membuat tidak ada penghasilan tambahan untuk keluarganya.

Dalam sehari, dari kebun karetnya, Sugeng hanya mendapatkan Rp 30.000.

Baca: Viral! Aksi Brutal Pesilat Malaysia Setelah Dikalahkan Atlet Silat Singapura di Asian Games 2018

Sebelumnya dia bisa peroleh uang hingga Rp 75 ribu.

Turunnya harga karet amat dirasakan oleh para petani.

Sementara keluhan petani atas turunnya harga tidak ada tanggapan pihak terkait.

Bahkan petani sama sekali tidak menerima informasi akan naiknya harga karet.

Baca: Dampak Isu Hoax Gempa Lombok NTB 26 Agustus, Kota Mataram Bak Kota Mati, Pantai Sepi

Di sisi lain, ucap Sugeng, daerah di kawasan tempat tinggalnya bisa saja menjadi pertambangan.

Halaman
12
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved