Suka Duka Biduan Waria di Banua

Waria Dalam Sudut Pandang Psikolog, Perempuan yang Terjebak di Tubuh Lelaki

Dia secara biologis termasuk dalam salah satu jenis kelamin, tetapi ia percaya secara psikologis bahwa dirinya anggota

Waria Dalam Sudut Pandang Psikolog, Perempuan yang Terjebak di Tubuh Lelaki
khairil rahim
Ketua Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Kalselteng, Sukmanoor Akba 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Setiap orang memiliki peran sesuai dengan jenis kelaminnya, namun ada juga individu yang menentang jenis kelaminnya.

Dia secara biologis termasuk dalam salah satu jenis kelamin, tetapi ia percaya secara psikologis bahwa dirinya anggota dari jenis kelamin yang berbeda seperti fisik dan penampilan secara keseluruhan ia adalah pria, pada realitasnya dirinya merasa sebagai perempuan yang terjebak pada tubuh laki-laki.

"Dari penjelasan sebelumnya, sifat di atas adalah salah satu dari ciri-ciri dari transgender atau dulu disebut dengan waria (wanita-pria), transgender ini merupakan kelompok minoritas yang sering kita temui dan seringkali didiskriminasikan di lingkungan masyarakat," kata Ketua Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Kalselteng, Sukmanoor Akbar.

Baca: SBY Resmi Dukung Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2018, Ini Posisinya di Tim Pemenangan Prabowo-Sandi

Baca: Transgender ini Ingin Dapat Jodoh Orang Normal, Tapi Jadi Waria Malah Banyak Fans

Fenita
Fenita (Istimewa)

Menurut Sukma mereka dihadapkan pada berbagai masalah seperti penolakan keluarga, kurang diterima oleh masyarakat, menerima kekerasan fisik/seksual dan verbal.

Apalagi sekarang sedang marak perdebatan mengenai LGBT, artinya transeksual juga termasuk bagian dari LGBT sehingga ada yang menganggap bahwa LGBT adalah sebuah perlaku yang menyimpang.

Baca: Keket Sebulan Dua Kali Suntik Hormon, Awalnya Lelaki Tulen, Sekarang Jadi Princess

Keket
Keket (Istimewa)

Belum diterimanya transgender oleh masyarakat membuah kehidupan mereka menjadi terbatas, banyak transgender yang berprofesi sebagai pengamen, dunia kecantikan dan kosmetik, salon, serta ada juga yang menjadi pekerja seks komersil untuk memenuhi kebutuhannya yang tentunya akan membuat mereka rentan dengan penyakit seksual.

Bahkan ada juga dari kalangan artis yang secara terang-terangan dan ada yang mengakui bahwa mereka adalah transgender.

Baca: Suara Mendayu-dayu Khas Perempuan, Siapa Sangka Nisa Angela Seorang TransPuan Sejak Lahir

Angela
Angela (Istimewa)

Ada beberapa kriteria ketika seseorang mengalami gangguan transgender seperti identitas dirinya, perilakunya menjalani peran gender yang berbeda dengan jenis kelaminnya, rasa tidak nyaman atau terasing dari peran jenis kelamin tersebut, bahkan ada yang berkeinginan untuk menghilangkan karakteristik jenis kelamin melalui pemberian hormon atau operasi jenis kelamin.

Ada beberapa perspektif penyebab kenapa seseorang menjadi transgender. Perspektif pertama adalah perspektif biologis, mereka miliki level hormon yang tidak biasa yang mempengaruhi perkembangan hipotalamus dan struktur otak lain yang berhubungan dengan seksual.

Baca: Rutin Pengajian Setiap Malam Kamis, Waria Ini Minta Doakan untuk Masalah Ini

Angela, Keket dan Fenita.
Angela, Keket dan Fenita. (KOLASE BPOST ONLINE)

Perpektif kedua adalah psikologis seperti hubungan ibu dengan anak laki-laki yang ekstrim, ayah jauh atau tidak ada dari anak sehingga tidak ada tokoh laki-laki yang menjadi panutan atau orangtua yang mengharapkan anak menjadi gender berbeda seperti cara berpakaian atau pola permainan.

"Terakhir adalah perspektif sosiokultural, trauma yang terjadi pada jenis kelamin tertentu akan menyebabkan anak menolak mengakui jenis kelaminnya," urai dia.

Kesadaran diri sendiri dan menerima sesuai gendernya menjadi penting bagi waria untuk kembali normal dan beraktifitas sesuai norma di masyarakat, jika ia tidak mengalami kesadaran tersebut maka ia akan kesulitan beraktivitas sesuai peran gendernya termasuk berkeluarga, bekerja, bersosialisasi ataupun aktivitas lainnya.

Dukungan dari keluarga, ulama, keluar dari lingkungan transgender, terapi kognitif dengan merubah pikiran atau perilaku yang kurang tepat dengan norma sosial akan membantu transgender untuk meminimalkan gangguannya.

(Banjarmasinpost.co.id/Khairil rahim)

Penulis: Khairil Rahim
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved