Gempa Donggala

Saat Gempa Donggala Bikin Panik, Napi Pun Kabur Lalu Membakar Rutan Donggala, Begini Ceritanya

Saat Gempa di Donggala terjadi, para narapidana (Napi) di rutan Donggala mengalami kepanikan.

Saat Gempa Donggala Bikin Panik, Napi Pun Kabur Lalu Membakar Rutan Donggala, Begini Ceritanya
(KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO)
Narapidana dan tahanan dikumpulkan di halaman saat terjadi kebakaran di Rumah Tahanan Donggala, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018) pasca kerusuhan tahanan. Kerusuhan dipicu permintaan narapidana dan tahanan dibebaskan untuk menemui keluarga yang terkena musibah gempa tidak dipenuhi. Sekitar 100 tahanan dikabarkan melarikan diri. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Saat Gempa Bumi di Donggala terjadi, para narapidana (Napi) di rutan Donggala mengalami kepanikan.

Saat itu, pada napi kabur, malah membakar Rutan Donggala saat Gempa Bumi Donggala terjadi.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS), Sri Puguh Budi Utama, mengakui bahwa telah terjadi pembakaran Rutan Donggala oleh para narapidana.

Namun Sri mengungkapkan bahwa napi tersebut dalam keadaan panik sehingga melakukan pembakaran ini untuk menyelamatkan diri. Sri mengatakan bahwa sebenarnya petugas rutan sempat melakukan langkah penyelamatan.

Baca: Usai Gempa Donggala, Gempa Bumi Terjadi di Ambon, Majene dan Blitar, BMKG Rilis Soal Potensi Tsunami

Baca: Keterangan Resmi BNPB Soal Gempa Susulan 8,1 SR dan Tsunami Besar di Palu Pasca Gempa Donggala

"Kemudian ketika ada getaran berikutnya dan mendengar bahwa pusat gempa ada di Donggala mereka panik," ungkap Sri dalam konferensi pers di Kantor Ditjen PAS, Jln Veteran, Senin (1/10/2018).

"Sebenarnya sudah ada negosiasi sedikit demi sedikit, diizinkan sedikit demi sedikit untuk melihat keluarganya, memang paniknya luar biasa. Tapi ternyata juga ada yang tidak sabar, entah bagaimana menyulut kebakaran itu," tambah Sri.

Ketika api sudah menjalar, seluruh narapidana yang ada di Rutan Donggala berhasil melarikan diri dan hingga kini belum diketahui berapa yang kembali.

"Rutan Donggala kapasitas 108, isi 343, hingga hari ini kosong dan belum dapat info yang kembali berapa," jelas Sri.

Meski begitu, Sri mengakui bahwa yang dilakukan oleh para napi dapat dimaklumi karena ingin menyelamatkan diri serta mencari informasi tentang keselamatan keluarga.

"Secara etika dan moral hukum hal ini dapat dimaklumi," tutur Sri.

Halaman
12
Editor: Murhan
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved