Berita Kalteng

Kualitas Udara Palangkaraya Memburuk Dampak Kabut Asap, Begini Datanya

Kebakaran lahan yang terjadi dalam beberapa hari di Kalimantan Tengah mulai membawa dampak buruk bagi udara Palangkaraya.

Kualitas Udara Palangkaraya Memburuk Dampak Kabut Asap, Begini Datanya
banjarmasin post group/ faturahman
Suasana Kota Palangkaraya 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Kebakaran lahan yang terjadi dalam beberapa hari di Kalimantan Tengah mulai membawa dampak buruk bagi udara Palangkaraya.

Ironisnya, berdasarkan pantauan titik panas atau hotspot yang dilansir Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sejak, Minggu (30/9/2018) titik panas tidak terdeteksi di Palangkaraya.

Titik panas malah terdeteksi di kabupaten sekitar Palangkaraya, seperti di Kabupaten Pulangpisau yang jumlahnya mencapai 60 an titik yang diduga adalah merupakan titik api.

Petugas BMKG Stasiun Tjilik Riwut Palangkaraya yang menjabat sebagai Kasi Observasi Aslaili menyebut, Palangkaraya tidak terpantau titik panas, tetapi di daerah Pulangpisau malah banyak titik api.

"Kemungkinan besar asap yang mengumpul di Palangkaraya adalah merupakan asap kiriman dari kabupaten lain, yang terkumpul di Palangkaraya, karena berdasarkan pantauan satelit, titik panas tidak terpantau di Palangkaraya.

Data Laporan Kualitas Udara Berdasarkan hasil pemantauan Laboratorium Lingkungan Kota Palangkaraya, Senin (1/10/2018).
Data Laporan Kualitas Udara Berdasarkan hasil pemantauan Laboratorium Lingkungan Kota Palangkaraya, Senin (1/10/2018). (banjarmasin post group/ faturahman)

Sementara itu, hingga, Selasa (2/10/2018) kondisi kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan di Kalteng, masih cukup tebal, terutama pada pagi hari sehingga sangat mengganggu aktifitas masyarakat.

Petugas pemadam kebakaran terus berupaya memadamkan api yang membakar semak belukar, melalui udara dan darat, menggunakan pesawat helikopter pembom air untuk memadamkan semak belukar terjauh dari jalan darat.

Munculnya kabut asap tebal diduga akibat hujan yang turun tidak dengan intensitas tinggi, namun hanya merupakan hujan tanggung, sehingga kawasan gambut yang terbakar hanya padam bagian atasnya saja sedangkan bagian dalam masih menyala.

Informasi dari Kepala Laboratorium Lingkungan Hidup Kota Palangkaraya, Bowo, menyebut, kondisi udara Palangkaraya, sejak, Senin (1/10/2018) tampak memburuk.

"Ini terlihat dari Indeks Standard Pencemaran Udara (ISPU) yang terpantau melalui papan displai yang disediakan di Bundaran, status udara sedang, dengan catatan partikel debu mencapai 50-100," ujarnya. (banjarmasinpost.co.id/faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved