Kisah Masjid Jatuh di HST

Dua Panji Bertulisan Huruf Arab, Pesan Ketauhidan Kepada Manusia

Sejarah pembangunan Masjid Al’ala di Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel

Penulis: Hanani | Editor: Rendy Nicko
banjarmasin post group/ hanani
Panji bernilai sejarah berisi pesan ketauhidan, yang disimpan di rumah H Dahlan, dan kini dirawat pewarisnya Ja’far Shadiq. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Sejarah pembangunan Masjid Al’ala di Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel, ternyata berkaitan erat dengan keberadaan dua panji (bendera) segitiga, yang kini tersimpan di rumah H Ja’far Shadiq, generasi keenam dari juriat Yudha Lelana, pemuka agama yang mewakafkan tanahnya untuk membangun masjid Al’ala.

Dua panji tersebut, disimpan Jafar di dalam etalase kaca, diberi tirai gorden dan diletakkan di dinding ruang tamu rumahnya.

Jafar yang mewarisi benda bersejarah tersebut, sangat terbuka terhadap pengunjung yang ingin melihat langsung panji tersebut. Menurutnya benda tersebut disimpan di rumahnya, agar mudah merawatnya.

Dia mewarisi panji tersebut, dari datuknya yaitu almarhum H Dahlan yang wafat tahun 1976. Sesuai usia masjid, panji tua tersebut diperkirakan berusia lebih 300 tahun.

Baca: Hore! Pendaftaran CPNS 2018 Diundur, BKN Bagikan Tips Mudah Akses sscn.bkn.go.id

Baca: Viral Video Mesum Mahasiswa UIN, Pihak Kampus Membenarkan

Baca: Jadwal Siaran Langsung (Live) RCTI Liga Champion : Tottenham vs Barcelona & Napoli vs Liverpool

Baca: Pernyataan Resmi Persib Bandung Soal Sanksi Imbas Tewasnya Anggota The Jakmania, Persib vs Persija

Pengamatan banjarmasinpost.co.id, dua panji berbentuk kain segitiga warna dasarnya kekuningan, dengan tulisan hitam. Namun, warna dan tulisan tersebut sudah sangat kabur, meski masih terbaca jelas, dan sebagian samar.

Bahan kainnya pun sudah lapuk, karena usianya yang makin tua. Dua lembar panji tersebut, bentuk dan ukurannya sama, yaitu panjang sekitar 175 sentimeter, tinggi 90 derajat dengan ukuran sisi miring bagian bawahnya 195 sentimeter.

Pada kedua panji, penuh tulisan huruf arab, antara lain yang masih tampak adalah kalimat Tauhid, “Laa ilaa ha illallah, Muhammadar rasulullah”.

“Yang tertulis dalam panji tersebut terlihat jelas, adanya sebuah fokus dari makna yang terkandung , yaitu ke esaan Allah, Tuhan yang berhak disembah oleh manusia,” kata Syamsiar Seman, dalam bukunya Panji-panji Dakwah Islamiyah, catatan khusus warisan leluhur di Kampung Jatuh, Pandawan, HST.

Panji ketauhidan
Panji ketauhidan (banjarmasin post group/ hanani)

Diapun menyebut, panji tersebut merupakan aspek dakwah Islamiyah dalam bentuk membuat sesuatu yang dapat diwariskan ke sepanjang kurun waktu yang berpengaruh positif terhadap dakwah, dalam hal ini dibangunnya masjid Al A’la. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved