Gempa Donggala

Gunakan Bahan-bahan Alami, Rumah Tradisional Sulawesi, Tahan Gempa dan Tsunami

Rancangan rumah panggung di Palu memiliki kelebihan, yaitu mampu bertahan terhadap banjir dan tsunami.

Gunakan Bahan-bahan Alami, Rumah Tradisional Sulawesi, Tahan Gempa dan Tsunami
Dokumen Chandara Alam/KOMPAS.com
Salah satu rumah adat Sulawesi Tengah 

Rumah juga mampu bertahan terhadap tsunami jika air yang datang tidak membawa debris yang besar. Rumah akan hancur saat debris besar yang dibawa oleh gelombang menghantam kaki-kaki bangunan.

Kompas.com menyaksikan rumah-rumah tradisional Sulawesi Tengah di Jalur Trans Sulawesi arah Kecamatan Banawa, masih tegak berdiri, meskipun bangunan-bangunan di kiri dan kanannya rusak, dan rata dengan tanah.

Selain gelombang tsunami, rumah tradisional juga aman terhadap gempa dengan skala tertentu. Ini karena material yang digunakan umumnya merupakan bahan-bahan alami. Penggunaan material memengaruhi kekuatan struktur suatu bangunan terhadap guncangan.

Pada bangunan tradisional, umumnya menggunakan kayu yang memiliki daya lentur lebih baik dibandingkan material beton.

Baca: Live Fox Sports 2! Timnas U-16 Jepang vs Tajikistan di Final Piala AFC U-16 2018 Malam Ini

Baca: Reaksi KH Maruf Amin Saat Ditanya Soal Ratna Sarumpaet Dapat Gelar Ibu Hoax Indonesia

"Kayu terkenal dengan daya lenturnya, sedangkan beton sangat rigid," ujar Rifai. Material yang digunakan pun kayu pilihan atau yang memiliki kualitas terbaik "Itulah kearifan lokal bangsa kita," imbuh dia. Selain itu, ikatan balok antar kayu menggunakan pin dan ikatan, sehingga lebih fleksibel ketika dihantam guncangan.

Rumah tradisional Sulawesi

Rifai menambahkan, Sulawesi memiliki beberapa jenis rumah panggung. Contohnya di Palu. Kota ini memiliki beberapa jenis rumah panggung tradisional, seperti Banua mBaso, Banua Oge, dan Souraja.

"Di Sulawesi banyak sekali, bisa jadi setiap kabupaten memiliki lebih dari dua jenis bangunan tradisional, bahkan jenis rumah pun bisa banyak macamnya," ungkap Rifai.

Adapula rumah untuk para petinggi yang disebut Kataba dan rumah untuk masyarakat umum yang disebut Tinja Kanjai.

Selain itu ada pula bangunan yang berfungsi sebagai gedung pertemuan yang disebut Baruga. Rumah adat kampung yang disebut Bantaya serta lumbung yang dikenal dengan nama Gampiri.

Halaman
123
Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved