Tajuk

Menjangkitkan Virus Jejangkit

Tentu, bukan sekadar bangga karena sejumlah duta besar negara sahabat menginjakkan kaki di Banua, dan mata organisasi dunia

Menjangkitkan Virus Jejangkit
banjarmasin post group/ edi nugroho
Tanaman hortikurtura juga ada di di lokasi Hari Pangan Se-dunia (HPS) di Desa Jejangkit, Kabupaten Batola, 

HARI ini, Kamis 18 Oktober 2018, Kalimantan Selatan menjadi perhatian dunia. Provinsi ini menjadi tuan rumah peringatan Hari Pangan Sedunia 2018.

Tentu, bukan sekadar bangga karena sejumlah duta besar negara sahabat menginjakkan kaki di Banua, dan mata organisasi dunia di bidang pangan sedang menjuru ke provinsi ini. Lebih dari itu, karena provinsi ini telah memulai membangunkan lahan tidur.

Setidaknya, di saat puncak peringatan hari pangan Rabu ini, sudah sekitar 750 hektare lahan tidur di Desa Jejangkit, Kabupaten Baritokuala, yang sebelum empat bulan lalu hanyalah semak belukar telah berubah menjadi hamparan padi.

Melihat pertumbuhan padi yang ditanam serta bulir yang sudah muncul, tentu kita bisa berharap dari Jejangkit. Harapan itu berupa peningkatan produksi beras di Kalsel. Selanjutnya, kita patut berharap, Kasel akan punya andalan baru ekonomi (selain batu bara dan sawit), yang bernama pertanian (padi).

Selama ini, berdasarkan data BPS, pada 2015 luasan panen padi di Kalsel mencapai 511.213 hektare, jagung 21.926 hektare, kedelai 7.722 hektare, kacang tanah 7.413, kacang hijau 634 hektare, singkong 3.478, ubi jalar 1.257.

Produktivitas lahan eksisting mencapai 4,187 ton per hektare (2015), atau total lahan di Kalsel telah memproduksi 2.140.276 ton gabah per tahun atau sekitar 1,3 juta ton beras per tahun. Jumlah produksi itu telah mencukupi (bahkan surplus) kebutuhan beras di Kalsel.

Dengan asumsi produktivitas per hektare tidak meningkat, ketika demo plot di Jejangkit menular ke sekitar 200 ribu lahan tidur lainnya di Kalsel, produksi beras di Banua akan meningkat sekitar 500 ribu ton per tahun.

Bila dahsyatnya ‘virus’ Jejangkit menular ke seluruh Indonesia yang memiliki lahan tidur potensial ditanami sekitar 9 juta ton, pertambahan produksi beras nasional bisa mencapai sekitar 22 juta ton per tahun.

Total produksi dari lahan tidur se-Indonesia itu sama dengan 66 persen dari total kebutuhan beras untuk konsumsi nasional (33 juta ton), atau sekitar 47 persen (46 juta ton) dari total produksi beras saat ini.

Namun begitu, untuk menjangkitkan virus Jejangkit ke 9 juta lahan tidur dan meningkatkan produksi beras nasional hingga 46 persen, tidaklah semudah dan secepat Pak Tarno bermain sulap. Perlu kesadaran, kemauan yang kuat, kerja yang keras, program yang sistematis dan berkelanjutan serta anggaran yang cukup (mungkin juga banyak). (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved