Breaking News:

Berita Banjarmasin

Menjaga Kepakeman Busana Adat Pengantin Banjar Kawang Luncurkan Buku

Sebab itulah Kawang yang dianugerahi gelar Astaprana atau pelestari budaya adat oleh Kesultanan Banjar

Penulis: Salmah | Editor: Didik Triomarsidi
Istimewa
Peluncuran dan seminar buku busana pengantin adat Banjar pakem itu digelar di Aula Kayuh Baimbai, Pemko Banjarmasin, Sabtu (20/10). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Busana adat adalah identitas suatu daerah, sebab itu jangan sampai busana adat terutama busana pengantin berubah bentuknya.

Sebab itulah Kawang yang dianugerahi gelar Astaprana atau pelestari budaya adat oleh Kesultanan Banjar, merasa bertanggungjawab untuk mempertahankan keaslian busana adat Banjar.

Melalui buku terbarunya tentang busana adat pengantin Banjar ia memaparkan sejarah busana adat Banjar, aksesoris, tata cara pemakaian, sehingga bisa menjadi tutorial bagi semua pihak.

Baca: LINK Cek Hasil Seleksi Administrasi CPNS 2018 sscn.bkn.go.id, Ada 2,3 Juta Pelamar Lolos!

Peluncuran dan seminar buku busana pengantin adat Banjar pakem itu digelar di Aula Kayuh Baimbai, Pemko Banjarmasin, Sabtu (20/10).

"Paling bersentuhan langsung dengan mempelai adalah para perias pengantin. Dengan adanya buku ini maka perias punya pedoman supaya jangan lepas dari pakem," ungkap Kawang.

Baca: LIVE STREAMING INDOSIAR! Live Streaming Arema FC vs Bali United Liga 1 2018 Pekan 26, Lilipaly Absen

Dalam buku dipaparkan tiga model busana adat Banjar yaitu Bagajah Gamuling yang diciptakan abad 15, kemudian Baamur Galung Pancarmatari abad 17-18 dan terakhir Bajukun Galung Pacinan yang merupakan kombinasi budaya Cina dan Arab.

Buku yang isinya berdasar acuan narasumber kompeten yatu Yuliani Djohansyah budayawan senior itu harapannya juga bisa menjadi pengetahuan generasi muda agar mengerti warisan budaya.

Baca: Total Pelamar CPNS di Balangan 782 Orang, Besok Verifikasi Berkas Diumumkan, Cek di Sini

"Nenek moyang kita menggali budaya masing-masing daerahnya, sehingga satu sama lain punya kekhasan, termasuk Kalsel. Makanya janganlah busana adat pengantin Banjar keluar pakem, seperti sekarang ada atasannya bermahkota Banjar tapi bawahannya ala barat macam mermaid atau barbie," ungkapnya.

Menurutnya kalau ingin busana adat Banjar dikreasi dengan busana komtemporer maka pijakannya jangan lepas hingga 80 persen. Hal ini akan hilang esensinya.

Hj Siti Wasilah, Ketua Dekranasda Kalsel, mengatakan, budaya yang didokumentasikan Kawang Yoedha ini adalah catatan sejarah bagi generasi muda agar memahami budaya Banjar dalam pakaian pengantin.

"Melalui Yayasan Mandulang atau Menggapai Dunia Gemilang, teruslah sosialisasikan budaya ini. Bekerjasama dengan semua pihak termasuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata," pesannya.

(banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved