Berita Banjar

Puskesmas Martapura 1 Kasus Diare Tertinggi di Kabupaten Banjar

Jajaran dinas kesehatan Kabupaten Banjar meningkatkan kewaspadaan terhadap diare. Dikarenakan penderita diare terus meningkat

Puskesmas Martapura 1 Kasus Diare Tertinggi di Kabupaten Banjar
kompas.com
Sejumlah warga Nunukan mengantri, memeriksakan kesehatan mereka setelah mengantap makanan yang disajikan salah satu warga Nunukan yang hajatan. 80 an warga Nunukan dilaporkan mendnerita muntah muntah sakit kepala, sakit perut, mual, muntah dan diare. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Jajaran dinas kesehatan Kabupaten Banjar meningkatkan kewaspadaan terhadap diare. Dikarenakan penderita diare setiap bulannya terus meningkat. Tercatat selama September 2018 ini ada 1.072 kasus diare.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Ikhwansyah mengatakan, kasus diare di September lebih sedikit dibanding Agustus 2018 sebanyak 1.299 kasus. Namun kejadian diare selama Agustus lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya, Juli yakni sebanyak 1.080 kasus.

Sedangkan diare selama Juni 2018 ada 774 kasus, Mei sebanyak 732 kasus, April sebanyak 874 kasus. Pada Maret 2018 justru lebih tinggi dibanding April, yakni ada 956 kasus, sedangkan pada Februari ada 856 kasus dan Januari ada 715 kasus diare.

Dia menjelaskan, jika melihat data maka memang terbanyak ada di Puskesmas Martapura 1 ada 1.522 kasus. Disusul Puskesmas Martapura Timur sebanyak 642 kasus diare, serta Puskesmas Gambut ditemukan sebanyak 618 kasus diare.

Baca: Latihan Soal CPNS 2018 Dari 5 Aplikasi Tes SKD Bagi Peserta Lolos Seleksi Administrasi CPNS 2018

Baca: Cara Cepat Jawab Tes SKD dan Contoh Soal Tes CPNS Usai Seleksi Administrasi CPNS 2018

“Data yang kami terima sampai hari ini belum ada meninggal dunia karena diara. Kewaspadaan diare terus kami tingkatkan melalui surveilans, promosi atau penyuluhan aktif, pembentukan pojok oralit, pembentukan tim gerak cepat di puskesmas,” katanya, Jumat (26/10).

Dia menjelaskan, untuk kasus diare cenderung muncul karena faktor lingkungan. Kemungkinan karena kebiasaan masyarakat di Kabupaten Banjar yang buang air besar sembarangan, serta budaya cuci tangan pakai sabun masih kurang.

Lanjutnya, bisa juga karena faktor lainnya diantaranya higienesitas sanitasi baik yang individu masih minim serta masyarakat belum sepenuhnya menyadari bahwa betapa penting cara hidup sehat.

“Diare juga bisa meningkat pada saat bencana alam seperti banjir dan lainnya, dimana terjadi krisis air dan lingkungan,” imbuh Ikhwansyah.

Pihaknya menghimbau masyarakat terkait pencegahan diare. Yakni mengajak masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat dengan cuci tangan pakai sabun, jika anak diare berikan minum sebanyak mungkin untuk mencegah dehidrasi dan segera membawa anak ke fasilitas layanan kesehatan terdekat.

“Jika bayi yang terkena gejala diare, maka tetap berikan ASI guna membantu penyembuhan. Serta untuk tindakan sementara berikan oralit atau LGG,” tambahnya.

Warga Martapura, Faris pernah mengalami diare masih di 2018. Lokasi rumahnya di Pesayangan sudah dilengkapi sanitasi yang mumpuni, hanya saja dirinya terkena diare kurang memperhatikan kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsinya di luar rumah.

“Sempat lunglai dan minum obat pencahar. Mengantisipasi dengan lebih memperhatikan makanan dan minuman yang higienis,” tambahnya. (Banjarmasinpost.co.id/Hasby)

Penulis: Hasby
Editor: Restudia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved