Fikrah

Cinta Allah Cinta Makhluk-Nya

ISLAM satu-satunya agama (yang diridhai) di sisi Allah. (QS Ali-Imran 19). Islam mengatur tata hubungan dengan Allah

Cinta Allah Cinta Makhluk-Nya
banjarmasinpost.co.id/rahmadhani
KH Husin Naparin 

Melihat itu, malaikat berkata, wahai Abu bin Hasyim! Bukan aku tidak tahu engkau bangun setiap malam ketika yang lain tidur, berwudhu dan kedinginan pada saat orang lain terlelap dalam tidur, tapi aku dilarang menulis namamu.

Apakah gerangan yang menjadi penyebabnya? tanya Abu bin Hasyim.
Engkau memang bermunajat kepada Allah, tapi asyik beribadah hanya memikirkan dirimu sendiri. Di kanan kirimu ada orang sakit atau lapar, tidak engkau tengok dan beri makan bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Allah kalau engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba-hamba yang diciptakan Allâh, mendoakan merekapun tidak? kata malaikat itu.
Abu bin Hasyim tersadar hubungan ibadah manusia bukan hanya hablun minallâh (penataan hubungan yang baik dengan Allah), tetapi juga hablum-minannas (penataan hubungan santun dengan sesama manusia).

Apa yang membuat Allah senang? Nabi Musa AS, pernah bertanya kepada Allah, “Wahai Allah, aku sudah melaksanakan sejumlah ibadah, berupa salat, zikir, puasa; manakah ibadahku yang membuat Engkau senang?”

Allah SWT menjawab, Salatmu itu untukmu sendiri, dengannya engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar. Dzikirmu hanya untukmu sendiri, dengannya hatimu menjadi tenang. Puasamu untukmu sendiri, dengannya kamu menundukkan hawa nafsumu sendiri.”

Nabi Musa AS bertanya lagi, Lalu apa yang membuat-Mu senangYa Allah?”
Allah SWT menjawab, Yang membuat-Ku senang adalah sedekah, infak, dan zakat serta perbuatan-perbuatan baikmu terhadap para hamba-Ku, karena saat engkau membahagiakan orang yang sedang susah, Aku hadir di sampingnya.
Di posisi manakah kita? kita sendiri yang bisa menjawabnya. Bila kita hanya sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu, tandanya kita hanya mencintai diri kita sendiri, bukan Allah SWT.

Tapi, bila kita berbuat baik dan berkorban untuk orang lain karena Allah SWT, itu tandanya kita mencintai-Nya dan tentu Dia mencintai kita karenanya. Di negeri ini banyak sekali orang susah, menolong mereka merupakan pintu yang terbuka lebar sebagai jalan untuk dicintai Allah SWT.
Nabi SAW bersabda, Laa yuminu ahadukum hatta yuhibba li akhiihi maa yuhibbu linafsihi, artinya, Tidak sempurna iman seorang di antara kamu hingga mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. (HR Bukhari-Muslim).

Ganjaran pun tidak tanggung-tanggung, Allah SWT sangat menghargai, tergambar dalam sabda Nabi SAW; Siapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, Allah akan melepaskan kesusahan baginya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang ditimpa kesulitan, Allah akan memudahkannya baik di dunia maupun di akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya, selagi sang hamba itu menolong sesamanya. (HR Muslim). (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved