Berita HST

Pembudidaya Ikan di HST Akan Diberi Lapak di Pasar Agrobisnis

Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah menyediakan lapak khusus bagi kelompok pembudidaya ikan

Pembudidaya Ikan di HST Akan Diberi Lapak di Pasar Agrobisnis
banjarmasin post group/ hanani
Para narasumber dari BI dan Pemkab HST saat kegiatan Focus Group Discussion di Aula Kantor Bappeda, terkait evaluasi program budidaya ikan lokal, Kamis (15/11/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah menyediakan lapak khusus bagi kelompok pembudidaya ikan, untuk memasarkan langsung hasil produksi ikannya. Lapak khusus di Pasar Agrobisnis Modern tersebut tersebut bertujuan membantu Gabungan Kelompok Pembudidaya Ikan (Gapokkan) memasarkan produknya langsung tanpa perantara. Sebab jika tak memasarkan langsung, mereka tak bisa menikmati hasil maksimal.

“Masalahnya, ikan hasil budidaya berbeda dengan ikan tangkapan di perairan bebas, yang tak ada biaya produksinya. Kalau Ikan budidaya, ada biaya pakan dan lain-lain,”kata, Kepala Bidang Perikanan, Dinas Perikanan, Peternakan dan Tanaman Pangan, Adriani pada Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi dan Monitor Program Kerja Sinergi 2018 Klaster Budidaya Ikan Lokal HST  bersama kelompok pembudidaya ikan dari Kecamatan Labuanamas Selatan dan Labuanamas Utara, Kamis (15/11/2018).

Kegiatan tersebut juga menghadirkan Manajer Tim Pengembangan Perekonomian Bank Indonesia Prwakilan Kalsel  Aryo Wibowo, serta Konsultan PUMKM, BI Kalsel, Untung Torang.  Dijelaskan, program budidaya ikan, merupakan upaya pemerintah kabupaten HST, bekerjasama dengan BI Kalsel, dalam rangka meningkatkan produksi ikan lokal. Seperti papuyu, haruan (Gabus) dan Toman, yang tingkat konsumsinya tinggi di kalangan masyarakat Kalsel.

Baca: SEDANG BERLANGSUNG! Live Streaming Hong Kong Open 2018, Kamis (15/11), Marcus/Kevin Siap

Tingkat konsumsi tinggi tersebut, harus diimbangi produksi  yang cukup memenuhi kebutuhan. Untuk itu, BI Kalsel melalui program klaster budidaya ikan lokal, bersama Pemkab HST  berupaya meningkatkan produksi jenis ikan tersebut. Tujuannya,  agar pembudidaya dapat selalu menyediakan ikan lokal dengan harga seimbang dan terjangkau di masyarakat.  Selanjutnya, masyarakat dapat mengonsumsi ikan tanpa harus menunggu musim.

Selama dua tahun berjalan, untuk program tahap kedua sejak 2017, Aryo menyatakan, kini sudah ada hasil yang menggembirakan. “Dulu  masih coba-coba. Sekarang, petani sudah mulai mandiri, mulai melepaskan ketergantungan bibit dari luar,”katanya

Bahkan, kata Aryo, petani  juga  sudah membuat produk olahan dari ikan, seperti kerupuk, ikan asin, dan lain-lain. Kegiatan FGD, bertujuan memonitor  dan mengevaluasi program yang telah dilaksanakan, sebagai persiapan kelanjutan program 2019 mendatang. Evaluasi juga meliputi  kebutuhan petani, kendala yang dihadapi, apa yang telah dicapai, hingga kedepan bisa lebih ditingkatkan lagi.

Baca: Jadwal Barito Putera vs Persija Jakarta Liga 1 U-19 2018, Pelatih Siapkan Taktik Khusus

Sebelumnya, Asisten Bidang ekonomi dan Pemerintahan, Pemkab HST Pandiansyah mengatakan MoU dengan BI Kanwil Kalsel dilaksanakan sejak 2017, dan terakhir 2021. Diharapkan keberhasilan yang selama ini dicapai pembudidaya, dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka. Selain bekerjasama dengan BI, sebelumnya Pemkab HST juga bekerjsasama dengan Universitas Lambungmangkurat (ULM).

Kerjasama tersebut, untuk penelitian dan  pengembangan potensi di masing-masing kecamatan di HST.”Kecamatan LAU dan LAS memungkinkan diberikan hibah di sektor perikanan. Jadi tak mungkin juga pihak BI melepas dana tanpa perhitungan,”kata Pandiasnyah.  Kegiata FGD juga diisi dengan pemaparan hasil evaluasi bersama BI dan DInas Perikanan HST, yang disampaikan Konsultan PUMKM BI Kalsel, Untung Torang, serta mendengarkan pengalaman para pembudidaya ikan, baik papuyu, haruan dan gabus.

Ada enam Gapokkan yang hadir, yaitu Harapan Jaya dan Harapan Bersama, di Desa Samhurang, dengan budidaya Toman, Panggang Kuning di Mahang Baru, dengan budidaya ikan gabus, serta Gapokkan Harapan Maju Desa Binjai Pirua dengan budidaya papuyu, Gapokkan Waringin Baru Desa Walatung, serta Gapokkan MUfakat desa Mahang Baru.

Menurut Adriani, dari kelompok tersebut, yang belum berhasil hanya Gapokkan Samhurang, karena kesalahan dalam menggunakan induk. “Induknya harus dari hasil budidaya juga,”katanya. Sedangkan Gapokkan lainnya, berhasil  bahkan enam sampai tujuh bulan, ikan sudah bisa dipanen. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved