Fakta Baru Kisah Baiq Nuril yang Jadi Korban Pelecehan Terungkap, Rieke : Belum Bisa Dieksekusi

Kisah Baiq Nuril yang diputus bersalah ternyata terungkap fakta baru. Aktivis perempuan Rieke Diah Pitaloka yang mengungkapkannya.

Fakta Baru Kisah Baiq Nuril yang Jadi Korban Pelecehan Terungkap, Rieke : Belum Bisa Dieksekusi
KOMPAS.com/FITRI
Baiq Nuril Maknun menghapus air matanya saat ditemui di rumahnya di perumahan BTN Harapan Permai, Labuapi, Lombok Barat, Senin (12/11/2018). Nuril kecewa atas keputusan MA yang mengabulkan kasasi Kejaksaan Tinggi NTB, atas kasus pelanggaran UU ITE. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kisah Baiq Nuril yang diputus bersalah ternyata terungkap fakta baru. Aktivis perempuan Rieke Diah Pitaloka yang mengungkapkannya.

Rieke mengatakan bahwa kuasa hukum Baiq Nuril hingga kini belum menerima salinan putusan Mahkamah Agung terkait kasus pelanggaran Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Karena itu, Baiq Nuril menurut Rieke belum bisa dieksekusi.

"Informasi dari Kuasa Hukum Baiq Nuril, hingga saat ini salinan resmi putusan Mahkamah Agung pun belum diterima bukan hanya oleh kuasa hukum, tapi juga PN Mataram dan Kejaksaan Negeri Mataram," ujar Rieke, Minggu, (18/11/2018).

Menurut Rieke yang ada Baiq Nuril hanya mendapatkan copy surat Kejaksaan Negeri Mataram burapa Surat Panggilan Terdakwa Nomor B-1109/P.2.10/11/2018.

Baca: Cek di Sini! Link Nilai Passing Grade Hasil Tes SKD CPNS 2018 di 8 Daerah, Jateng Hingga Jatim

Baca: Geger Postingan Hoaks Polri Dukung Prabowo-Sandiaga Uno di Pilpres 2019, Ini Faktanya

Baca: Klasemen Akhir MotoGP 2018 Usai Seri Pamungkas Dimenangi Dovizioso di MotoGP Valencia 2018

Surat tersebut adalah surat panggilan terdakwa Baiq Nuril untuk menghadap Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Mataram tanggal 21 November 2018, pukul 09.00 WITA.

"Alasan Kejaksaan dalam rangka melaksanakan putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia yang baru berupa petikan," katanya.

Bila copy surat panggilan dari Kejaksaan Negeri Mataram tersebut benar adanya, menurut Rieke maka telah terjadi indikasi kuat pelanggaran Kejaksaan Negeri Mataram terhadap Pasal 270 KUHAP yang mengatur bahwa pelaksanaan eksekusi harus menggunakan salinan putusan.

Rieke menilai salah apabila alasan Jaksa melakukan eksekusi karena berpedoman terhadap Surat Edaran Mahkamah Agung yang membolehkan eksekusi hanya berdasarkan petikan putusan.

Menurutnya argumentasi tersebut tidak dapat dibenarkan secara hukum. Posisi UU KUHAP jelas di atas Surat Edaran Mahkamah Agung.

"Dengan demikian jika panggilan Kejaksaan Negeri Mataram terhadap Baiq Nuril benar adanya, maka terindikasi kuat justru Kejaksaan c.q Jaksa terkait terindikasi kuat melanggar KUHAP, surat panggilan “eksekusi” Baiq Nuril oleh Kejaksaan Negeri Mataram berpotensi cacat," katanya.

Baiq Nuril bersama suaminya, Lalu Isnaini (kaos krem), berbincang dengan aktivis SAFEnet dan PAKU (Payuguban Korban UU ITE) di rumahnya di Labuapi, Lombok Barat.
Baiq Nuril bersama suaminya, Lalu Isnaini (kaos krem), berbincang dengan aktivis SAFEnet dan PAKU (Payuguban Korban UU ITE) di rumahnya di Labuapi, Lombok Barat. ((KOMPAS.com/ FITRI RACHMAWATI))
Halaman
123
Editor: Rendy Nicko
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved