Breaking News:

Berita HST

Kue Cincin, Bangkitkan Ekonomi Warga Batung Muara Rintis, Sekarang Cukup di Pinggir Jalan

Kue cincin, merupakan jajanan khas masyarakat Kalsel, yang mudah di temukan di pasar-pasar tradisional.

banjarmasinpost.co.id/hanani
Pedagang kue cincin di Desa Batung Muara Rintis, Kecamatan Batangalai Utara, Hulu Sungai Tengah. Warga setempat berhasil menciptakan kampung mereka menjadi sentra kue cincin dalam beberapa bulan terakhir. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Kue cincin, merupakan jajanan khas masyarakat Kalsel, yang mudah di temukan di pasar-pasar tradisional. Namun, di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, kue berbahan dasar tepung, garam dan gula merah tersebut, kini tak hanya tersedia di pasar dan warung-warung teh. Tapi dengan mudah ditemukan di pinggir-pinggir jalan Desa Batung Muara Rintis, Kecamatan Batangalai Utara.

Kampung tersebut, kini menjadi “kampung cincin”. Hampir semua warganya menjadi perajin kue cincin. Kue tradisonal tersebut langsung dipasarkan sendiri di tepi jalan nasional. Jalan dari arah  Barabai menuju arah  ke Tanjung dan Kaltim. Bahkan, sebuah spanduk menyapa mereka yang hendak mampir ke sentra kue dengan rasa manis gula merah tersebut.

“Selamat Datang di Wilayah Pembuat Kue Cincin,”demikian isi spanduk. Payung warna pelangi pun menghiasi pinggir-pingir jalan. Perajin memajang kue cincin yang dikemas kotak plastik transparan di bawah payung, depan rumah masing-masing. Batung Muara Rintis mulai dikenal sebagai sentra kue cincin beberapa lalu selama 2018. Warga kampung tersebut, menurut warga setempat memang pembuat kue cincin, namun tak seramai sekarang.

Baca: Link Live Streaming RCTI & Jadwal Timnas Indonesia vs Filipina di Piala AFF 2018, Kerugian Garuda!

Baca: Resmi! Kategori Peserta yang Diloloskan Tes SKD CPNS 2018 dalam Sistem Ranking di Aturan Baru BKN

Sebelumnya, selain bertani padi, warga juga dikenal sebagai petani karet. Sejak harga karet terpuruk dan sampai sekarang belum juga membaik, warga pun kehilangan sumber pendapatan dari karet. Para perempuan di desa tersebut, akhirnya mencoba membangkitkan ekonomi keluarga mereka, dengan mengembangkan usaha membuat kue cincin, lalu memasarkannya sendiri.

“Ternyata pembelinya ramai, sehingga warga lainnya pun ikut membuat dan menjual langsung. Pembeli yang mampir tak hanya dari HST, Balangan dan Tanjung, tapi juga dari Kaltim,”tutur Masiah, salah satu perajin, yang ternyata sudah lama membuat kue tersebut. 


Penjual kue cincin di Desa Batung Muara Rintis, Kecamatan Batangalai Utara (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Namun, dulu Masiah memasarkan ke warung-warung dan pasar. Masiah juga menerima pesanan dalam jumlah besar, untuk keperluan selamatan, arisan dan acara lainnya. Dia menyatakan tak masalah, harus bersaing dengan warga sekampungnya yang lain, karena masing-masing punya rezeki yang sudah diatur Tuhan Yang Maha Pemberi Rezeki.

Bahkan, menurut warga setempat Abdi, saat ini tercatat 62 keluarga menjadi perajin dan penjual kue cincin di pinggir jalan. “Kami malah saling mendukung. Sukses pedagang cincin di kampung ini, sukes kita semua,”kata perempuan berusia sekitar 50 tahun tersebut. Biasanya, penjualan lebih ramai, tiap kali ada pengajian Guru Bakhiet di Desa Gampa Kabupaten Balangan.

Baca: Cewek Ini Dituding Penyebab Gisella Anastasia Gugat Cerai Gading Marten, Begini Ceritanya

Baca: Bawa ke Orang Pintar, Ortu Bayi Berkepala Dua HSU Sudah Tahu Sang Anak Bakal Lahir Kembar Siam

Banyak jemaah pengajian yang mampir membeli kue cincin, sebagai bekal untuk camilan, maupun untuk oleh-oleh keluarga. Hj Arida, warga Jalan PH M Noor Barabai mengaku tiap Selasa, saat hendak ke pengajian minimal membeli lima kotak kue cincin. Satu kotak berisi 10 kue, denan harga Rp 10 ribu. Namun, ada pula kemasan isi 15  biji sampai tiga puluh biji, dengan harga disesuaikan isinya.

Kue tersebut untuk dibagikan ke jemaah lainnya, sebagai sedekah di sela jam makan malam.

“Alhamdulillah, kue cincin yang dijual di Muara Rintis enak, dan kadang masih anget, karena digoreng langsung di meja bawah payung mereka,”katanya.  Selain cincin berbahan dasar tepung, perajin setempat juga mebuat cincin talipuk (dari biji bunga teratai) yag bahan adonanya dipasok dari Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved