Berita Banjarmasin

Bedah Buku Mengenai Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary, Belajar Kegigihan Menuntut Ilmu

Tak hanya membedah buku karya H M Laily Mansur, yang berjudul Zafry Zamzam Kehidupan, Kegiatan, dan Pemikiran, Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

Bedah Buku Mengenai Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary, Belajar Kegigihan Menuntut Ilmu
banjarmasinpost.co.id/eka pertiwi
Bedah buku yang dilakukan UIN Antasari di Auditorium Mastur Jahri, UIN Antasari, Selasa (04/12/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Tak hanya membedah buku karya H M Laily Mansur, yang berjudul Zafry Zamzam Kehidupan, Kegiatan, dan Pemikiran, Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari juga membedah buku yang berjudul Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary sebagai Ulama Juru Da'wah dalam Sejarah Penyiaran Islam di Kalimantan Abad 13 H/18 M dan Pengaruhnya di Asia Tenggara karya Zafry Zamzam.

Buku mengenai Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary ini dibedah oleh Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Antasari Banjarmasin Prof Dr H A Hafiz Anshary, MA, di Auditorium UIN Antasari, Selasa (04/12/2018).

Hafiz Anshary mengatakan cerita Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary menceritakan tentang perjuangan dan dakwah.

Cerita Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary cocok menjadi teladan bagi muslim.

Baca: Kondisi Terkini Sulis, Penyanyi Religi Teman Duet Haddad Alwi, sang Suami Minta Doa Kesembuhan

Baca: Sosok Kekasih Desy Ratnasari Pengganti Irwan Mussry, Desy Blak-blakan Sebut Cirinya, Orang Indonesia

Baca: Bocoran Materi Tes SKB Kemendikbud! Cek Link Pengumuman Hasil Tes SKD CPNS 2018 di Sini

Menurutnya, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary mampu menghasilkan banyak karya di usia senja.

Di mana 14 sampai 16 karya yang dihasilkan ada pada usia 65-105 tahun.

"Beliau juga pada usia tersebut menghasilkan banyak fatwa mendirikan pesantren dan dakwah di masyarakat. Ini bukti usia tua bukan penghalang," ujarnya.

Selain itu, dalam buku juga diceritakan jika wawasan keilmuan beliau sangat luas.

Apalagi, beliau dididik selama 35 tahun di Mekkah dan Madinah. 30 tahun di Mekkah dan lima tahun di Madinah.

"Beliau ingin melanjutkan pendidikan lagi tapi di Madinah oleh Syeck Sulaiman Kurdi menilai cukup keilmuan yang dimiliki. Beliau disuruh kembali dan mengajarkan ilmu yang dimiliki di nusantara. Ini bukti mengenai kegigihan mencari ilmu," jelasnnya.

Hafiz juga mencatat ada beberapa koreksi dalam penulisan buku diantaranya tidak tepat penamaan orang seperti Tamjidullah 1 bin Sultan Kuning.

Sebelumnya juga diceritakab Tamjidullah bin Tahlilullah.

"Tidak mungkin ada dua Tamjidullah. Kalau pun dua pasti Tamjidullah satu dan dua. Kalau sama-sama satu tidak mungkin. Setelah dicek terbyata Tahmidullah 1," bebernya.

(Banjarmasinpost.co.id/Eka Pertiwi)

Penulis: Eka Pertiwi
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved