Berita Kabupaten Banjar

Seribu Lebih Warga Belum Terekam KTP Elektronik, Ini yang Dilakukan Disdukcapil Banjar

Pelayanan administrasi kependudukan di Kabupaten Banjar terus diintensifkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) setempat.

Seribu Lebih Warga Belum Terekam KTP Elektronik, Ini yang Dilakukan Disdukcapil Banjar
DUKCAPIL BANJAR untuk Banjarmasinpost.co.id
Warga pedalaman antusias mengikuti perekaman KTP elektronik keliling yang dilaksanakan petugas Dukcapil Banjar, beberapa waktu lalu. 

Lebih lanjut didampingi Kasie Identitas Penduduk Helda Marlina, Azwar menuturkan capaian perekaman (cetak reguler) per November 2018 sebanyak 409.502 orang dari warga Banjar yang wajib memiliki KTP el sebanyak 410.736 orang.

Jumlah total penduduk di Kabupaten Banjar saat ini sebanyak 548.120 jiwa yang tersebar di 277 desa dan 13 kelurahan pada 20 kecamatan.

"Jadi, capaiannya sudah 99,82 persen. Namun memang hingga November 2018 masih ada 1.234 orang yang belum melakukan perekaman. Ini sebagian berupa penyempurnaan data seperti karena pindah alamat," beber Azwar.

Saat ini rata-rata perekaman di kantor Dukcapil Banjar 50 orang sehari. Kecuali pada awal pekan bisa mencapai 100 orang atau bahkan lebih.

"Silakan datang ke kantor kami. Syarat perekaman sangat gampang, cuma melampirkan fotokopi kartu keluarga (KK) dan fotokopi akte kelahiran," beber Azwar.

Jam buka layanan Senin-Kamis mulai pukul 08.00 hingga 12.30 Wita. Setelah jeda istirahat dilanjutkan lagi pukul 14.00 hingga 15.30 Wita. Khusus Jumat buka pukul 08.00 Wita hingga 11.00 Wita.

"Kami imbau jangan lewat calo. Urus sendiri, karena sangat gampang dan gratis. Paling cuma perlu sabar sedikit untuk antre, tapi juga tak lama. Jika perekaman sudah, lalu pada hari berikutnya (seminggu setelah perekaman) pengambilan fisik KTP-nya, sehari pun selesai. Daftar pagi, siang pukul 14.00 Wita sudah bisa didapat KTP el-nya," pungkas Azwar.

Kalangan warga Banjar mengharapkan pelayanan pengurusan KTP elektronik bisa lebih ditingkatkan. Terutama menyangkut fasilitas fisik karena ruang tunggu perekaman yang sempit dan bahkan saat hujan air hujan kerap terpercik dari air hujan yang terjun di dinding bangunan.

"Itu kan ruang perekamannya terletak di luar gedung, di sisi kiri yang bagian atasnya ditutup atap. Nah, saat hujan air hujan masih sering terjun bebas sehingga cukup mengganggu kenyamanana. Bangkunyanjuga perlu ditambah lagi," sebut Aran, warga Martapura. (banjarmasinpost.co.id/roy)

Penulis: Idda Royani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved