Menengok Tragedi 40 Tahun Lalu
Negara Transit Bahan Bakar yang Dua Kali Ternyata Membawa Maut, Pesawat Meledak
Srilangka menjadi lintasan penerbangan pesawat jamaah haji dari Indonesia. Sebab itu di era sebelum 80-an ibukota Colombo menjadi langgangan
Penulis: Salmah | Editor: Didik Triomarsidi
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Srilangka adalah sebuah negara pulau yang terletak di Benua Asia bagian Selatan (Asia Selatan), berbatasan laut dengan India dan Maladewa.
Srilangka menjadi lintasan penerbangan pesawat jamaah haji dari Indonesia. Sebab itu di era sebelum 80-an ibukota Colombo menjadi langgangan pendaratan pesawat haji untuk mengisi bahan bakar.
Dibanding Bombay (India) dan Karachi (Pakistan) sebagai pilihan lain transir, Colombo dianggap lebih mudah antara lain karena bandaranya terbuka 24 jam.
Baca: 6 Fakta Jalan Raya Gubeng Surabaya Ambles 50 Meter, Pembangunan RS hingga Suara Gemuruh
Namun ironisnya, di negara itu terjadi dua tragedi jatuhnya pesawat yang mengangkut jamaah haji dari Indonesia, pertama pada 1974 dan kedua pada 1978.
Tragedi Colombo pada 4 Desember 1974 pukul 18.38 waktu setempat, terjadi tatkala pesawat Martin DC-8 yang membawa jemaah haji Indonesia dari embarkasi Surabaya menuju Saudi Arabia.
Baca: Dituding Penyebab Jalan Raya Gubeng Surabaya Ambles, Pihak RS Siloam Angkat Bicara
Pesawat dari Maskapai asal Belanda, Martin Air, buatan 1968 yang disewa Garuda itu gagal mendarat di bandara Colombo dan jatuh di Maskeliya, Srilangka setelah menabrak Bukit Adam atau Bukit Tujuh Perawan, sekitar 100 mil sebelah selatan dari bandara.
Pesawat DC-8 buatan McDonnell Douglas, AS, yang 4,5 jam terbang dari Surabaya dengan nomor penerbangan 138 itu hancur berkeping-keping.
Baca: Tragedi Colombo 1978, Korbannya Hidup tapi Ada Peti Matinya
Korbannya sebanyak 182 jamaah haji, 3 pramugari dan 8 awak pesawat hancur dan tidak bisa lagi dikenali.
Para korban adalah 16 orang dari Lamongan, 1 orang asal Surabaya, 50 orang asal Sulawesi Selatan, 3 orang asal Kalimantan Timur dan 111 orang asal Blitar, Jawa Timur.
Tragedi ini menjadi pemberitaan besar di berbagai belahan dunia. Semua menyoroti kejadian yang kabarnya kecelakaan pesawat terbesar kedua zaman itu.
Colombo memang kawasannya tertutup gunung yang menyulitkan pendaratan, terutama jika cuaca buruk.
Baca: Jose Mourinho Dipecat, Pep Guardiola Ikut Sedih dan Beri Dukungan
Seiring perkembangan jenis pesawat yang mampu terbang lebih jauh dengan bahan bakar cukup, Srilangka tak lagi jadi transit pesawat haji asal Indonesia.
Sementara itu, Hj Trimurti, korban selamat pada tragedi Colombo 1978 mengatakan, pasca kejadian tersebut dibentuklah persaudaraan haji Colombo yang anggotanya 74 jamaah haji yang selamat.
Ketua persaudaran haji Colombo awalnya H Mas Abi Karsa, wartawan Banjarmasin Post, yang juga korban selamat. Setelah meninggal kemudian digantika H Syahril sebagai ketua sejak 1999.
"Kegiatan bulanan dilakukan untuk berkumpul sembari arisan dan pengajian," jelasnya.
Sekali waktu para anggota juga melakukan ziarah ke Makam Syuhada untuk mendoakan al almarhum dan almarhumah.
"Seiring waktu beberapa anggota ada yang meninggal dunia, namun untuk tetap menjalin silaturahmi, keanggotaan digantikan anak-anaknya," terang Hj Murti.
(banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/19122018-hj-trimurti.jpg)