Tsunami Terjang Pantai Anyer

Bencana Tsunami di Selat Sunda, Dianilisa dan Kemungkinan Penyebabnya

Selain memakan banyak korban jiwa, tsunami juga meluluh-lantakkan bangunan serta rumah warga di Kabupaten Pandeglang

Bencana Tsunami di Selat Sunda, Dianilisa dan Kemungkinan Penyebabnya
(Twitter @Sutopo_PN)
Anak Gunung Krakatau meletus sebayak 49 kali sepanjang Jumpat (3/8/2018) pagi. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANDUNG - Gelombang tsunami yang terjadi di Selat Sunda, Provinsi Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12/2018) lalu banyak memakan korban jiwa dan meluluhlantahkan sebagian bangunan.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami PVMBG Sri Hidayati mengatakan, berdasarkan analisis sementara, Gunung Anak Krakatau sebelum tsunami mengalami erupsi dan berfluktuasi secara terus menerus sejak Juni 2018. Namun erupsi itu mengalami peningkatanan intensitas yang signifikan.

"Tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 kemungkinan besar dipicu oleh longsoran atau jatuhnya sebagian tubuh dan material Gunung Anak Krakatau (flank collapse), khususnya di sektor selatan dan barat daya. Masih diperlukan data tambahan dan analisis lebih lanjut untuk mengetahui apakah ada faktor lain yang berperan," jelasnya dalam keterangan tertulis, Selasa (25/12/2018).

Baca: Ini Penjelasan BMKG Soal Simpang Siur Berita Bencana dari Informasi Awal

Dampak tsunami sendiri menerjang pantai barat Provinsi Banten dan Pantai Selatan Provinsi Lampung.

Selain memakan banyak korban jiwa, tsunami juga meluluh-lantakkan bangunan serta rumah warga di Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lampung Selatan.

Setidaknya, ratusan rumah, hotel dan warung akibat terjangan tsunami.

Baca: Ungkapan Kesedihan Ifan Seventeen Tentang Dylan Sahara, Posting Foto Dylan Berjilbab Saat Umrah

Berdasarkan pengamatan stasiun pasang surut Badan Informasi Geospasial (BIG), diperoleh informasi mengenai waktu tiba dan tinggi gelombang pertama tsunami pada hari Sabtu, 22 Desember 2018, yakni sebagai berikut:

- Di Stasiun Marina Jambu (Desa Bulakan, Kec. Cinangka, Kab. Serang, Banten) tiba pada pukul 21:27 WIB, dengan ketinggian 1,4 meter. 

- Di Stasiun Banten (Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten) tiba pada pukul 21:40 WIB, dengan ketinggian 0,27 meter. 

- Di Stasiun Kota Agung (Kec. Kota Agung, Kab. Tanggamus, Lampung) tiba pada pukul 21:35 WIB, dengan ketinggian 0,31 meter. 

- Di Stasiun Panjang (Pelabuhan Panjang, Kota Bandar Lampung, Lampung) tiba pada pukul 21:27 WIB, dengan ketinggian 0,36 meter.

- Berdasarkan katalog tsunami yang ditulis SL Soloviev dan Ch N Go pada tahun 1974, wilayah Selat Sunda beberapa kali dilanda tsunami yang dipicu oleh gempa bumi tahun 1722, 1852, dan 1958, erupsi atau aktivitas Gunung Krakatau tahun 416, 1883, dan 1928, serta penyebab lain yang belum diketahui tahun 1851, 1883 dan 1889.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Editor: Halmien
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved